5 Tantangan Start Up Supaya Sanggup Bertahan dan Menguntungkan

Oleh: Iwan Setiawan

Membangun perusahaan start up bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal menakutkan. Banyak start up yang berhasil menjadi unicorn tapi juga lebih banyak start up yang gagal dan akhirnya tutup.

Berikut ini saya akan membahas 5 tantangan supaya perusahaan start up sanggup bertahan dan bahkan menguntungkan.

    1. Menemukan Pasar

      Permasalahan pasar merupakan hal yang sangat penting sebelum membangun sebuah start up. Sebab tidak ada satupun perusahaan yang akan sanggup bertahan tanpa memiliki pasar.

      Sebuah perusahaan start up harus melakukan riset pasar terlebih dahulu, terutam mencari problem yang benar-benar membuat konsumen mau mengeluarkan uang untuk membeli solusi atas masalah tersebut.

      Anda harus banyak mendengar pembicaraan orang-orang, apakah sebuah produk yang akan Anda bangun adalah merupakan hal yang “baik” untuk mereka gunakan ataukah justru suatu “keharusan” untuk mereka gunakan.

      Semakin mendekati keharusan, berarti semakin baik.

      Perusahaan start up juga harus pandai-pandai memilih, apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk produk  yang akan dikembangkan. Sebab banyak start up yang menciptakan sebuah produk yang belum dibutuhkan pasar saat ini.

      Mungkin produk itu akan dibutuhkan di masa depan, tapi saat ini pasar belum siap menerimanya. Sehingga akhirnya start up kehabisan napas untuk bertahan hingga produk tersebut benar-benar bisa diterima oleh pasar.

      Tantangan berikutnya adalah Anda harus mengetahui market size untuk produk yang akan dikembangkan. Ukuran besarnya pasar, harus benar-benar memadai untuk menghidupi perusahaan start up.

      Pastikan market size untuk produk yang akan Anda kembangkan memadai untuk membuat start up Anda terus berkembang.

      Perlu diingat bahwa ukuran pasar yang dimaksud adalah orang-orang yang benar-benar mengalami problem berat, mau mengeluarkan uang untuk solusi atas problem tersebut dan memiliki kemampuan membayarnya.

      Kesimpulan saya adalah: Berangkatlah dari pasar (market driven), bukan dari produk (product driven).

    2. Mengukur Model Bisnis

      Model bisnis yang dibuat untuk sebuah start up biasanya sudah diuji dengan sejumlah kecil pelanggan awal. Jumlah yang sangat tidak memadai untuk gambaran secara keseluruhan dari sebuah start up yang akan berjalan dalam waktu yang lama.

      Biasanya pendiri start up merasa sangat optimis dengan proses akusisi pelanggan awal yang tampak mudah. Apalagi pelanggan awal tersebut berasal dari orang-orang yang dikenal, misalnya teman, saudara atau komunitas tempat ia sering melakukan aktifitas sosial.

      Hal yang tidak pernah diperhitungkan biasanya adalah berapa biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan pelanggan dari kalangan orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal.

      Pertanyaan sederhanya adalah apakah Anda mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar dari biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi pelanggan secara signifikan? Jika jawabanya “YA”, berarti model bisnis Anda sudah cukup baik untuk dijalankan. Namun jika jawabanya “TIDAK”, sudah semestinya Anda berpikir untuk beralih ke ide bisnis lain.

      Dalam dunia start up kita mengenal istilah CAC (Cost of Acquiring a Customer) yakni biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu orang pelanggan. Kita juga mengenal LTV (Lifetime Value of a Customer) yakni seberapa besar nilai yang bisa kita dapatkan dari satu orang pelanggan tersebut.

      Sudah semestinya nilai LTV lebih besar dari nilai CAC untuk sebuah model bisnis yang baik. Bagi Anda yang tidak memiliki modal besar, sebaiknya mampu merecovery CAC dalam waktu kurang dari 12 bulan. Ini bukanlah aturan baku, namun bisa dijadikan sebagai acuan non formal.

    3. Perkuat Tim Manajemen

      Tim manejemen perusahaan start up biasanya ditangani oleh para founder yang umumnya dari kalangan non menajemen.Kebanyakan start up teknologi didirikan oleh para programmer yang kurang memahami manajemen.Beberapa hal yang harus dilakukan oleh tim manejemen perusahaan start up adalah sebagai berikut:

Lanjutkan membaca 5 Tantangan Start Up Supaya Sanggup Bertahan dan Menguntungkan

Iklan

Masih perlukah kerja keras, setelah bisa kerja cerdas?

work-smartPertanyaan diatas merupakan kegelisahan saya akhir-akhir ini terhadap generasi baru yang sudah enggan melakukan kerja keras.

Anak-anak muda fresh graduate merupakan tunas-tunas baru yang seharusnya memiliki semangat dan antusiasme tinggi terhadap dunia barunya, baik dunia kerja maupun dunia usaha yang mereka geluti.

Anak-anak muda ini masih memiliki daya berpikir yang sangat kuat dalam hal mencari ide, menguji sebuah ide sekaligus mengkritisi sebuah ide. Hal ini merupakan makanan sehari-harinya selama menempuh pendidikan formal. Dalam hal menciptakan ide, olah pikir memang lebih dominan dibandingkan dengan olah rasa dan olah raga. Disinlah peran kecerdasan sangat dibutuhkan.

Namun Lanjutkan membaca Masih perlukah kerja keras, setelah bisa kerja cerdas?

Semua Profesi adalah Penjual

Semua Orang PenjualMENJUAL, selama ini melekat pada profesi salesman. Padahal setiap profesi selalu saja berhubungan dengan proses menjual, sebut saja profesi dokter, pengacara, notaris, konsultan, teknisi dan bahkan seorang karyawan bagian administrasipun harus bisa menjual.

Ketika saya mengatakan ini kepada teman-teman non-salesman, biasanya mendapat reaksi penolakan. Sering kali mereka mengatakan bahwa menjual adalah hal yang paling menakutkan dan profesi yang paling tidak ia kuasai. Namun tak peduli apapun alasanya, kita semua harus melakukan penjualan setiap hari.

Seorang dokter anak misalnya, sampai harus mendesain ruang praktiknya dengan berbagai sticker tokoh-tokoh kartun yang disukai anak-anak. Memberikan tontonan menarik melalui layar LCD yang berada tepat didepan anak yang sedang diperiksa. Menenangkan anak-anak dengan suara lembut dan candaan yang membuat anak-anak tidak takut pergi ke dokter. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika seorang dokter anak memberikan layanan Lanjutkan membaca Semua Profesi adalah Penjual

Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana

Christian F Gusway dan Andi IrawanGramedia Matraman tampak ramai seperti akhir pekan biasanya, namun hari ini (6/7/2013) tampak ada hal berbeda ketika terpampang backdrop bertuliskan “Seminar Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana Bersama Christian F. Guswai”. Terpampang beberapa logo perusahaan terkenal dan salah satunya adalah Acosys sebagai sponsor acara tersebut.

Acosys sendiri adalah sebuah software bisnis dan akuntansi yang telah dipakai oleh ribuan perusahaan di seluruh Indonesia. Software nasional yang sangat fleksibel ini merupakan pemegang Wirausaha Muda Mandiri Award untuk bidang industri kreatif.

Christian F. Guswai sudah dikenal luas oleh pelaku bisnis retail sebagai Lanjutkan membaca Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana

Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu

poorSeorang teman saya yang mengelola LAZIS (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sodaqoh) baru baru ini datang kepada saya dan menceritakan perjuanganya mengentaskan kemiskinan. Tentu ini cerita menarik bagi saya yang sudah lama ingin berperan serta dalam pengentasan kemiskinan.

Ia berangkat dari orang-orang terdekat dengan kantornya. Mulai dengan mendatangi satu keluarga miskin yang berada tidak jauh dari situ. Orang tersebut tidak punya pekerjaan tetap dan sering terlihat mengemis untuk memenuhi kebutuhanya. Ia berusaha mengorek keterangan dari orang tersebut untuk mencari apa yang menjadi kendala dalam hidupnya selama ini sehingga ia menjadi miskin.

Dari situ diketahui bahwa penyebab utama kemiskinanya adalah Lanjutkan membaca Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu

Catatan Perjalanan Iwan Setiawan