Jawaban interview yang membuat tidak lulus

image
Interview

Beberapa hari ini saya disibukkan dengan test interview untuk rekrutmen tenaga salesman dan teknisi di Cabang Lampung, Cabang Banten dan Cabang Semarang secara maraton.

Mencari tenaga salesman tampaknya sedikit lebih sulit dibandingkan dengan mencari tenaga teknisi. Mungkin untuk teknisi telah ada sekolah khusus penghasil teknisi, yakni SMK. Sedangkan untuk salesman, sekalipun ada beberapa SMK yang membuka jurusan pemasaran, tapi hasilnya masih sangat sedikit dan belum siap pakai.

Kebanyakan pelamar bisa mengerjakan test tertulis dengan baik. Mungkin karena test tertulis dilakukan secara online, bisa dikerjakan di rumah, di warnet atau di manapun. Apa lagi pelamar masih bisa browsing untuk mencari jawaban yang lebih baik, sekalipun tetap saja akan terbentur dengan batasan waktu yang dibuat sangat mepet.

Berbeda dengan test tertulis, test interview dilakukan live/langsung, sehingga tidak punya banyak waktu untuk berfikir atau minta bantuan mbah google. Disitu juga sangat terlihat keadaan mental, cara berkomuikasi, cara menyanggah pendapat yang tidak sesuai dengan pemikiranya, juga harus membuat keputusan dengan sangat cepat untuk contoh kasus yang dilontarkan penguji saat test.

Sebagai penguji, saya juga ingin tahu seberapa kuat pelamar mempertahankan pendapatnya, sehingga tidak jarang saya harus membuat pertanyaan jebakan, kemudian menguji jawabanya dengan pertanyaan lain. Dan ternyata sebagian besar pelamar tergoda untuk berganti-ganti jawaban.

Misalnya saya tanya seperti ini: Menurut Anda, proses penjualan manakah yang paling sulit dilakukan, membuat janji pertemuan, presentasi, follow up atau closing?

Jawaban mereka beragam sesuai dengan kelemahan dirinya. Orang yang merasa tidak percaya diri berbicara di depan orang banyak, pasti akan menjawab [Presentasi]. Orang yang sering membuat janji palsu (raja gombal hehe), kemungkinan besar dia akan memilih [Membuat janji pertemuan]. Orang yang merasa sulit meyakinkan orang lain, kemungkinan akan menjawab [Closing]. Dan orang yang tidak konsisten, kemungkinan akan menjawab [Follow up].

Salah satu peserta yang menjawab [Presentasi], kemudian coba saya tawarkan jawaban lain, “Menurut Anda mana yang lebih sulit, membuat janji pertemuan atau presentasi?, karena sering kali prospek beralasan tidak punya waktu untuk bertemu. Jika bertemu saja tidak bisa, mana mungkin bisa presentasi?.”

Ternyata pelamar tersebut tergoda, “eh..iya juga ya, kan susah membuat janji dengan orang yang belum tertarik dengan produk kita”. Eng..ing..eng….dia tergoda.

Kemudian saya coba tawarkan jawaban lainya, “Menurut Anda lebih sulit mana membuat janji dengan closing? Karena closing itu adalah titik akhir dimana prospek akan memutuskan membeli produk atau tidak. Lebih mudahnya kita bercermin ke diri Anda sendiri, jika Anda ditawarkan seseorang untuk membeli sesuatu yang harganya mahal, yang paling susah, memutuskan membeli atau hanya sekedar janjian dengan seseorang?”

Dan pelamar kemabali tergoda alternatif yang ditawarkan “ Kalau saya sih memutuskan membeli sesuatu yang mahal itu lebih sulit ketimbang cuma sekedar janjian”. Kemudian saya membumbuinya, “Nah, prospek Anda juga demikian. Melobi orang yang merasa sulit memutuskan, tentu juga lebih sulit kan? Dari pada hanya sekedar janjian bertemu”.

Kemudia pelamar dengan lugunya menjawab “Iya juga ya Pak, jadi lebih sulit closing ketimbang membuat janji pertemuan”.

Dalam hati saya tertawa geli, sebenarnya ada satu pertanyaan satu lagi yang saya tidak sampai hati menanyakanya. Meminjam kata-kata Andi F Noya di acara Kick Andy, “Jadi, orang macam apa Anda ini? Kalau semua bagian pemasaran Anda anggap sulit, tampaknya Anda tidak cocok menjadi salesman”. Hehehehe…

Saya jadi tidak habis pikir, mengapa mayoritas pelamar bisa dengan mudah diombang-ambingkan dengan retorika sederhana seperti itu. Apakah karena kurangnya pengalaman, ataukan memang pendirianya yang labil sehingga mudah dipermainkan.

Yang menarik juga, mayoritas pelamar tidak memiliki visi yang jelas dan tidak memiliki target jangka pendek maupun jangka panjang yang nyata terhadap kehidupanya sendiri. Padahal perusahaan membutuhkan orang-orang yang memiliki target yang nyata agar bisa merancang langkah-langkah nyata untuk menggapainya.

Kata-kata ingin sukses, ingin berhasil, ingin sejahtera, ingin bahagia, ingin bla..bla.. yang semuanya masih klise adalah yang paling banyak diungkapkan oleh pelamar.

Alhasil hanya 10% pelamar yang lulus test tertulis yang juga lulus test interview. Padahal saya berharap paling tidak ada 50% yang lulus. Ini lah yang membuat kita semua miris, begitu banyak angkatan kerja yang menganggur, namun masih saja sulit mencari tenaga kerja yang punya kualifikasi memadai.

Apa yang salah? Bagaiman memperbaikinya?

Dua pertanyaan itu jadi mengusik pikiran saya terus menerus. Karena kalau seperti ini terus, akan terjadi proses ekonomi yang tidak sehat, dimana ada banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, juga banyak perusahaan membutuhkan tenaga kerja, tapi tidak bisa saling mengisi.

Tampaknya kalau dibahas lebih jauh, hal ini akan menjadi panjang sekali. Karena ini akan menyangkut pendidikan di rumah tangga, pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, pergaulan, kemampuan menganalisa setiap masalah yang muncul di depan mata dan pengalaman hidup.

Ada yang punya jawaban? silakan komen di tulisan ini. Terima kasih.

22 thoughts on “Jawaban interview yang membuat tidak lulus”

  1. terima kasih sebelumnya Bang Iwan ^_^ tulisanya me-bias-kan kesan tersendiri bagi saya (pribadi).

    kalau yang salah sich saya lihat secara awam mungkin memang niat awal pelamar kerja tersebut adalah materi (Money Oriented) bang, itu tuh ganggu dan mudah mengombang ambingkan seseorang (meskipun sebagian kecil ada orang yg tidak seperti itu).

  2. Allow…pak iwan..
    Seru nich tulisannya…klw pelamar kerja tuh biasanya ada juga yg niatnya coba-coba…alias ga serius..(pengalaman dulu…ha…a).jadi jawabnya ga konsisten gitu…or memang blank banget alias ga ada pengalaman di bidang yg dilamar ..ga tawu konsepnya..jadi terombang ambing..apalagi pemula pak…hmm..^_^

  3. hmmm…terima kasih pak, tulisannya dapat menambah wawasan saya, n_n
    saya punya dua pendapat pak
    1. Jika dilihat dari pertanyaannya, keempat pertanyaan tersebut saling terkait, tergantung bagaimana kita melakukan pertanyaan pertama, jika pertanyaan pertama dapat berjalan mulus, step selanjutnya tergantung hasil. itu kalo berdasarkan prosedur, heheeh. (tapi saya lebih cenderung membuat pertanyaan sendiri pak, yaitu bagaimana jurus kita menyampaikan apa yang akan kita tawarkan, sehingga dapat diterima dan tertanam dalam fikiran pengusahanya).
    2. jika dari pelamar niat nya seperti komentar diatas, mungkin perlu diajukan pertanyaan yang menjurus ke kesungguhan ingin kerja dan pola fikir atau kreatifitas nya.

    terima kasih ^_^

  4. bangorigagah: terima kasih sdh mampir ke blog saya, memang banyak yang targetnya yang penting dapat kerja untuk cari uang.
    Mbak Utie: alloww juga pengalaman pribadi kayaknya heheh…
    Mas Agus: Betul mas, untuk pertanyaan Mas Agus ada juga di bagian lain, hanya saja tidak saya tulis disini. Ada 60 pertanyaan yang hampir semua modelnya seperti itu. Selain menguji kecerdasan, kecepatan mengambil keputusan, sikap mental, loyalitas, juga menguji ketahanan berpikir.

    Terimakasih semuanya🙂

  5. Salam kenal Mas Iwan Setiawan.., ulasan yang menarik… mungkin yang dimaksud dengan mas Iwan adalah proses “Penjualan”, karena kalau proses “Pemasaran” cakupannya kelihatannya lebih luas lagi… Memang dari pengalaman yang pernah saya jalani baik menjadi orang yang (pura-pura) melamar mencari pekerjaan sebagai salesman… atau sebagai orang yang diberi tugas melakukan rekrutmen tenaga penjualan / salesman… dari pengalaman tersebut saya melihat bahwa masih banyak perusahaan (terutama) yang belum besar, Interviewer-nya juga kurang berkompeten dibidangnya terutama bila melakukan rekrutmen tenaga penjualan / sales, sehingga hasilnya kurang maksimal. Sementara dari pihak pencari kerja, benar kata mas Iwan hampir 95 % akan mengundurkan diri saat tahu bahwa yang dicari adalah “SALESMAN” (padahal di iklan disebutkan bahwa yang dicari adalah Salesman). Pengalaman saya dalam rekrutmen agen asuransi kerugian, dari 20 orang yang lolos mengikuti training, maka akan tersisa 1-2 orang agen yang bertahan berprofesi sebagai agen asuransi. Memang sampai sekarang masih belum ada sekolah ilmu “seni menjual”, yang ada sekarang baru sebatas ilmu / teori “salesmanship”. Membahas masalah salesman & bagaimana merekrut salesman yang efektif memang sangat menarik. Salam sukses.

  6. Mas Y.Hermawan,

    Terima kasih koreksinya sudah saya perbaiki, bukan pemasaran tapi penjualan (salah tulis).
    Sebenarnya di sekolah harusnya menanamkan jiwa kewirausahaan, artinya berani mengambil risiko baik untung maupun rugi. Sebenarnya profesi salesman membutuhkan jiwa seperti pengusaha, yaitu berani ambil risiko. Memang pada posisi yang tidak seaman pegawai negeri, tapi punya potensi yang jauh lebih besar.

  7. Bagaimana apabila posisinya dibalik anda sebagai pelamar,apakah pasti bisa menjawab dengan lancar ?kadang2x seorang HRD memiliki jawaban yg menurut ny benar klo benar2x dia menguasai terlebih dengan jurusan psikologi yg ,,memang jurusan inilah yg menguasainy.

  8. Mas Andrew, sebenarnya titik berat pada tulisan saya diatas bukan pada jawaban itu benar atau salah, nemun mengenai keteguhan dalam mempertahankan pendirian. Keteguhan ini penting bagi perusahaan untuk mendapatkan orang-orang yang kuat secara mental.

  9. Sbelumnya saya brtrima kasih kpada pak iwan atas penjelasanya…
    kalau saya boleh tanya?
    Saya ingin tahu inti dari penjelasan pak iwan di atas?
    Saya sudah baca brkali” tp saya belum faham sma inti persoalan di atas.
    tolong di jawab?
    Terima kasih.

  10. Maksud saya, perusahaan biasanya membutuhkan karyawan yang punya pendirian, bukan karyawan yang plin-pan dan angin-anginan. Karyawan yang memiliki pendirian dengan dasar yang juga rasional, tentu akan lebih mudah dikembangkan untuk menjadi lebih profesional, dari pada karyawan yang hanya angin-anginan.

  11. seru nih!! ikut gabung….!
    Faktor utama adalah perbedaan metode cara didik di setiap masing-masing dalam bertumbuh kembangnya seeorang.di mulai dari lingkungan keluarga,masyarakat dan sekolah yang hanya menyajikan teori pembelajaran tanpa di imbangi pendidikan.oleh karenanya ketika di hadapkan pada setiap persoalan baru seperti pertanyaan pada interview masuk kerja
    sering kali di hadapkan 2 persoalan yang mendasar;

    pertama : idialisme yang melekat saat dia belajar di bangku pendidikan di mana dia sekolah / kuliah.
    ke dua : inkonsistensi psikologi dari mutu pendidikan.

  12. Pak saya mau nanya hasil keputusan HRD / Tim Personalia untuk keputusan terima tidak di terimanya para pencari kerja, setelah selesai interview.

    Dari pengalaman saya sebagai pencari kerja yang lumayan sering tidak diterima oleh perusahaan, saya ingin bertanya kepada anda, mana tahu anda tahu pertanyaan dipikiran saya.

    Pertanyaannya : Kenapa HRD asal menolak/tidak menerima pencari kerja dengan membuat janji “Kami akan menghubungi anda kembali, waktu paling lama panggilan berikutnya sekitar 2 minggu”. Setelah 2 minggu di tunggu tidak ada jawaban sama sekali.

    Apakah lebih bagus di jawab secara lansung kalau para interview tersebut tidak sesuai dengan perusahaan dari pada di buat janji seperti yang sebutkan. Setidaknya para pencari kerja lebih tahu mencari langkah selanjutnya.

    Terima kasih sebelumnya.
    Sukses selalu buat anda.

  13. Dear Pak Iwan..

    Saya sangat tertarik dengan pertanyaan yang bapak ajukan kepada calon pelamar tersebut, lalu muncul pertanyaan saya, kalau si pelamar menjawab “lebih susah Follow up”, pertanyaan apa selanjutnya yang akan bapak tanyakan…. hehehe, karena kebetulan di kantor kami akan membuka lowongan pekerjaan, saya berniat mengaju kan pertanyaan yang sama kepada pelamar, sebelumnya saya ucapkan terima kasih..

  14. kalau buat saya, tidak ada yg sulit .. karena itu sudah resiko kerja di bagian sales .. terlebihnya TARGET .. kerja di bagian sales harus brani, aktif dan disertai dg product knowledge yg joosss gandooss ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s