Arsip Kategori: SDM

Pengembangan SDM

Cara Membuat Karyawan Lebih Produktif

Oleh: Iwan Setiawan

Seorang sahabat saya bercerita, dia bekerja di perusahaan sudah bertahun-tahun, banyak prestasi yang sudah diraih untuk perusahaan dan dia merasa tidak mendapatkan penghargaan yang layak dari pimpinannya.

Sebaliknya ketika terjadi kesalahan, serta merta semua dianggap sebagai kesalahan besar yang menjadi tanggung jawab pribadinya, bukan sebagai tanggung jawab perusahaan.

Dia merasa diperlakukan tidak adil, ketika ia berhasil mendulang omset yang besar, semua untuk perusahaan, tidak ada penghargaan atau bahkan keuntungan secara finansial untuknya. Tapi sebaliknya, ketika salah dalam bernegosiasi dan terjadi kerugian, maka kerugian itu semuanya ditimpakan kepadanya dalam bentuk pemotongan gaji.

Cerita-cerita seperti ini sering saya dengar dari beberapa orang yang “curhat” pada saya.

Memang unik, obrolan karyawan atas  ketidakpuasan kepada bosnya sering kali menjadi bumbu yang gurih dalam obrolan antar karyawan. Saya juga sering menemui sisa-sisa chatt karyawan di laptop milik perusahaan yang diserahkan karyawan menjelang mereka resign.

Kadang sampai saya tertegun, sebegitu buruknya kah saya di mata karyawan? Tapi balik lagi, bagi saya hal-hal seperti itu adalah pelecut untuk terus memperbaiki diri. Kadang memang ada hal-hal yang tidak sengaja kita lakukan yang ternyata itu merugikan karyawan.

Kadang ada kata-kata yang menurut kita biasa saja, tapi itu dirasakan sangat dalam oleh karyawan. Kadang kita tidak tahu bagaimana karyawan berjuang membela nama baik perusahaan, nama baik bosnya, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran atau bahkan kadang juga uangnya.

Ada beberapa obrolan mereka sudah berjuang mati-matian untuk peruasahaan, mengeluarkan uang untuk entertain yang tidak bisa diklaim ke perusahaan dan masih banyak lagi kisah heroik seorang karyawan yang loyal kepada perusahaan tapi kurang diperhatikan oleh pimpinanaya.

Masih banyak sistem yang dibuat oleh perusahaan hanya berpikir bagaimana memproteksi perusahaan dari berbagai kecurangan karyawan, tapi tidak memikirkan bagaimana menghargai kerja mereka. Meminimalisir kerugian dan memaksimalkan keuntungan. Bahasa kasarnya memindahkan semua risiko kepada karyawan, tapi mengambil semua keuntungan untuk perusahaan.

Tidak semua kerja karyawan bisa diukur secara finansial, tidak bisa dinilai berapa besar karyawan tersebut memberikan keuntungan secara finansial kepada perusahaan. Walaupun tidak dipungkiri bahwa keberhasilan perusahaan diukur dari sisi finansial.

Banyak sentuhan tangan yang membuat sebuah perusahaan mampu memberikan produk dan layanan terbaik kepada pelanggan. Prinsipnya karyawan hanya bisa membahagiakan pelanggan ketika hatinya juga bahagia.

Bagaimana mungkin karyawan bisa membuat pelanggan puas jika setiap hari, hatinya tersayat (biar agak dramatis pakai kata tersayat) oleh kata-kata kasar atasanya. Oleh sistem yang selalu merugikan karyawan.

“Manusia itu digerakkan oleh hatinya. Jika ingin merebut hati pelanggan, maka rebutlah hati karyawanmu”, sebuah kata bijak yang dipesankan oleh guru saya.

Di sisi lain…

Saya juga sering melihat karyawan bekerja hanya semata-mata memikirkan keuntungan dirinya sendiri. Tidak peduli kepada perusahaan, tidak peduli pada rekan kerjanya. Tapi biasanya yang seperti ini jumlahnya sedikit.

Lalu paling mudah menyalahkan mereka yang kinerjanya buruk dan egois seperti itu. Eiitss.. stop dulu. Coba kita lihat lebih dekat, mengapa mereka punya sikap seperti itu? Apakah dari awal bekerja, saat kita wawancara dan menerimanya sudah seperti itu? Kalau dari awal sudah begitu, berarti kita salah merekrut, sebaiknya diberhentikan secapat mungkin.

Tapi kalau awalnya baik, kinerjanya bagus lalu menjadi buruk, malas dan berprilaku menyimpang, sebaiknya cek dulu apa yang menyebabkan dia begitu.

Apa ada masalah pribadi, masalah keluarga, masalah dengan pasanganya, masalah dengan rekan kerjanya?.

Jika tidak ada, coba cek apa harapan-harapan dia terhadap perusahaan yang tidak terwujud?. Biasanya mereka merasa apatis, karena apa yang ia harapkan dari perusahaan tidak terpenuhi, ia tidak punya kekuatan untuk memberontak dan mengubah sistem, akhirnya memilih menarik diri dan menurunkan kualitas kerjanya.

Mau resign, nanti susah lagi mau cari kerja yang lain, mau all out di tempat kerja sekarang, iklimnya tidak kondusif untuknya. Akhirnya dia tetap bekerja tapi tidak punya kualitas kerja yang baik.

Rumit ya.. mengelola karyawan, semakin banyak karyawan semakin rumit. Setiap orang punya ekspektasi yang berbeda-beda terhadap perusahaan, terhadap pimpinanya. Memang perusahaan tidak akan mungkin mampu memenuhi semua ekspektasi karyawan tersebut. Tapi setidaknya carilah yang terbaik. Berusahalah yang terbaik.

Tidak ada bos yang sempurna, begitu juga tidak ada karyawan yang sempurna. Yang ada adalah berupaya terus untuk memperbaiki diri dan berusaha menjadi sempurna.

Banyak juga cerita bagaimana “mesranya” hubungan karyawan dengan bosnya, tapi tidak saya tulis disini, nanti nunggu ada yang curhat lagi ya J

Salam bahagia ..

Masih perlukah kerja keras, setelah bisa kerja cerdas?

work-smartPertanyaan diatas merupakan kegelisahan saya akhir-akhir ini terhadap generasi baru yang sudah enggan melakukan kerja keras.

Anak-anak muda fresh graduate merupakan tunas-tunas baru yang seharusnya memiliki semangat dan antusiasme tinggi terhadap dunia barunya, baik dunia kerja maupun dunia usaha yang mereka geluti.

Anak-anak muda ini masih memiliki daya berpikir yang sangat kuat dalam hal mencari ide, menguji sebuah ide sekaligus mengkritisi sebuah ide. Hal ini merupakan makanan sehari-harinya selama menempuh pendidikan formal. Dalam hal menciptakan ide, olah pikir memang lebih dominan dibandingkan dengan olah rasa dan olah raga. Disinlah peran kecerdasan sangat dibutuhkan.

Namun Lanjutkan membaca Masih perlukah kerja keras, setelah bisa kerja cerdas?

Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu

poorSeorang teman saya yang mengelola LAZIS (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sodaqoh) baru baru ini datang kepada saya dan menceritakan perjuanganya mengentaskan kemiskinan. Tentu ini cerita menarik bagi saya yang sudah lama ingin berperan serta dalam pengentasan kemiskinan.

Ia berangkat dari orang-orang terdekat dengan kantornya. Mulai dengan mendatangi satu keluarga miskin yang berada tidak jauh dari situ. Orang tersebut tidak punya pekerjaan tetap dan sering terlihat mengemis untuk memenuhi kebutuhanya. Ia berusaha mengorek keterangan dari orang tersebut untuk mencari apa yang menjadi kendala dalam hidupnya selama ini sehingga ia menjadi miskin.

Dari situ diketahui bahwa penyebab utama kemiskinanya adalah Lanjutkan membaca Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu

Jawaban interview yang membuat tidak lulus

image
Interview

Beberapa hari ini saya disibukkan dengan test interview untuk rekrutmen tenaga salesman dan teknisi di Cabang Lampung, Cabang Banten dan Cabang Semarang secara maraton.

Mencari tenaga salesman tampaknya sedikit lebih sulit dibandingkan dengan mencari tenaga teknisi. Mungkin untuk teknisi telah ada sekolah khusus penghasil teknisi, yakni SMK. Sedangkan untuk salesman, sekalipun ada beberapa SMK yang membuka jurusan pemasaran, tapi hasilnya masih sangat sedikit dan belum siap pakai.

Kebanyakan pelamar bisa mengerjakan test tertulis dengan baik. Mungkin karena test tertulis dilakukan secara online, bisa dikerjakan di rumah, di warnet atau di manapun. Apa lagi pelamar masih bisa browsing untuk mencari jawaban yang lebih baik, sekalipun tetap saja akan terbentur dengan batasan waktu yang dibuat sangat mepet.

Berbeda dengan test tertulis, test interview dilakukan live/langsung, sehingga tidak punya banyak waktu untuk berfikir atau minta bantuan mbah google. Disitu juga sangat terlihat keadaan mental, cara berkomuikasi, cara menyanggah pendapat yang tidak sesuai dengan pemikiranya, juga harus membuat keputusan dengan sangat cepat untuk contoh kasus yang dilontarkan penguji saat test.

Sebagai penguji, saya juga ingin tahu seberapa kuat pelamar mempertahankan pendapatnya, sehingga tidak jarang saya harus membuat pertanyaan jebakan, kemudian menguji jawabanya dengan pertanyaan lain. Dan ternyata sebagian besar pelamar tergoda untuk berganti-ganti jawaban.

Misalnya saya tanya seperti ini: Menurut Anda, proses penjualan manakah yang paling sulit dilakukan, membuat janji pertemuan, presentasi, follow up atau closing?

Jawaban mereka beragam sesuai dengan kelemahan dirinya. Orang yang merasa tidak percaya diri berbicara di depan orang banyak, pasti akan menjawab [Presentasi]. Orang yang sering membuat janji palsu (raja gombal hehe), kemungkinan besar dia akan memilih [Membuat janji pertemuan]. Orang yang merasa sulit meyakinkan orang lain, kemungkinan akan menjawab [Closing]. Dan orang yang tidak konsisten, kemungkinan akan menjawab [Follow up].

Salah satu peserta yang menjawab [Presentasi], kemudian coba saya tawarkan jawaban lain, “Menurut Anda mana yang lebih sulit, membuat janji pertemuan atau presentasi?, karena sering kali prospek beralasan tidak punya waktu untuk bertemu. Jika bertemu saja tidak bisa, mana mungkin bisa presentasi?.”

Ternyata pelamar tersebut tergoda, “eh..iya juga ya, kan susah membuat janji dengan orang yang belum tertarik dengan produk kita”. Eng..ing..eng….dia tergoda.

Kemudian saya coba tawarkan jawaban lainya, “Menurut Anda lebih sulit mana membuat janji dengan closing? Karena closing itu adalah titik akhir dimana prospek akan memutuskan membeli produk atau tidak. Lebih mudahnya kita bercermin ke diri Anda sendiri, jika Anda ditawarkan seseorang untuk membeli sesuatu yang harganya mahal, yang paling susah, memutuskan membeli atau hanya sekedar janjian dengan seseorang?”

Dan pelamar kemabali tergoda alternatif yang ditawarkan “ Kalau saya sih memutuskan membeli sesuatu yang mahal itu lebih sulit ketimbang cuma sekedar janjian”. Kemudian saya membumbuinya, “Nah, prospek Anda juga demikian. Melobi orang yang merasa sulit memutuskan, tentu juga lebih sulit kan? Dari pada hanya sekedar janjian bertemu”.

Kemudia pelamar dengan lugunya menjawab “Iya juga ya Pak, jadi lebih sulit closing ketimbang membuat janji pertemuan”.

Dalam hati saya tertawa geli, sebenarnya ada satu pertanyaan satu lagi yang saya tidak sampai hati menanyakanya. Meminjam kata-kata Andi F Noya di acara Kick Andy, “Jadi, orang macam apa Anda ini? Kalau semua bagian pemasaran Anda anggap sulit, tampaknya Anda tidak cocok menjadi salesman”. Hehehehe…

Saya jadi tidak habis pikir, mengapa mayoritas pelamar bisa dengan mudah diombang-ambingkan dengan retorika sederhana seperti itu. Apakah karena kurangnya pengalaman, ataukan memang pendirianya yang labil sehingga mudah dipermainkan.

Yang menarik juga, mayoritas pelamar tidak memiliki visi yang jelas dan tidak memiliki target jangka pendek maupun jangka panjang yang nyata terhadap kehidupanya sendiri. Padahal perusahaan membutuhkan orang-orang yang memiliki target yang nyata agar bisa merancang langkah-langkah nyata untuk menggapainya.

Kata-kata ingin sukses, ingin berhasil, ingin sejahtera, ingin bahagia, ingin bla..bla.. yang semuanya masih klise adalah yang paling banyak diungkapkan oleh pelamar.

Alhasil hanya 10% pelamar yang lulus test tertulis yang juga lulus test interview. Padahal saya berharap paling tidak ada 50% yang lulus. Ini lah yang membuat kita semua miris, begitu banyak angkatan kerja yang menganggur, namun masih saja sulit mencari tenaga kerja yang punya kualifikasi memadai.

Apa yang salah? Bagaiman memperbaikinya?

Dua pertanyaan itu jadi mengusik pikiran saya terus menerus. Karena kalau seperti ini terus, akan terjadi proses ekonomi yang tidak sehat, dimana ada banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, juga banyak perusahaan membutuhkan tenaga kerja, tapi tidak bisa saling mengisi.

Tampaknya kalau dibahas lebih jauh, hal ini akan menjadi panjang sekali. Karena ini akan menyangkut pendidikan di rumah tangga, pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi, pergaulan, kemampuan menganalisa setiap masalah yang muncul di depan mata dan pengalaman hidup.

Ada yang punya jawaban? silakan komen di tulisan ini. Terima kasih.

Penerobos dan Risk Taker

Risk TakerMungkin anda masih bertanya-tanya, mengapa ada orang yang sama-sama memiliki jatah waktu 24 jam sehari, tetapi bisa lebih cepat berhasil ketimbang orang lain?.

Orang matrialistik mungkin akan menjawab, karena ia punya lebih banyak modal berupa materi. Orang akademis mungkin akan menjawab, karena dia mengenyam pendidikan lebih tinggi. Orang psimistis mungkin akan menjawab bahwa ia punya nasib baik atau hoki.

Tapi bukan itu, hidup ini terlalu panjang jika harus melalui semua proses secara alamiah. Butuh terobosan dan keberanian mengambil risiko. Orang-orang yang lebih cepat berhasil biasanya memiliki terobosan-terobosan baru yang tidak dilakukan orang lain, juga ia berani mengambil semua risiko dari terobosan baru tersebut.

Namun jangan juga kita menyalahartikan kedua hal tersebut. Sekarang banyak motivator di TV dan seminar-seminar yang menyebarkan virus ‘gampang’. Buka usaha modal dengkul, bisnis properti tanpa modal, menjadi pengusaha dalam 24 jam dan semacamnya.

Menjadi pengambil risiko bukan berarti tanpa membuat analisa dan pertimbangan, setidaknya butuh analisa ringan dengan membuat skor sederhana agar proses pengambilan keputusan tidak terlalu lama. Saat ini banyak kalangan anak muda yang mengartikan mengambil risiko secara mentah-mentah, bahkan bisa dibilang membabi buta.

Saya suka dengan kata-kata  Buya Hamka “Jika Anda sedang benar, jangan terlalu berani. Jika Anda sedang takut, jangan terlalu takut”. Artinya tetap punya keberanian, namun juga diiringan dengan perhitungan.

Pada tulisan ini saya akan sedikit bercerita bagaimana efek dari berani mengambil risiko. Saya tidak akan menceritakan risiko yang besar dan bombastis agar tidak disalahartikan. Dengan sedikit berani mengambil keputusan, bisa mempersingkat proses yang cukup signifikan.

Pekan ini  menjadi long weekend untuk para karyawan dan pegawai negeri. Karena Sabtu-Minggu libur, selasa natal yang diikuti dengan cuti bersama. Hari senin yang jadi hari kecepit internasional, bisa ijin atau bolos. Tambah asyik lagi juga bertepatan dengan libur sekolah. Ini kesempatan yang sangat langka bagi warga Jakarta untuk pulang kampung. Tak heran jika jalanan menuju keluar Jakarta sangat padat.

Saya yang sebenarnya stay di Lampung kebetulan sedang bertugas di Jakarta untuk satu minggu. Tanpa disangka sebelumnya jadwal pulang saya adalah Jum’at dan menjadi bagian dari kemacetan tersebut. Dengan asumsi kalau naik travel Jum’at malam, maka Sabtu pagi subuh sudah sampai di Bandar Lampung, biasanya begitu.

Tetapi agaknya kali ini agak berbeda, setelah memakan waktu berjam-jam untuk keluar Kota Jakarta, mulai lega setelah masuk ke Tol Tangerang dan berlanjut ke Tol Merak. Tangerang – Merak ditempuh dalam waktu 2 jam seperti biasa. Belum ada firasat buruk sama sekali karena kondisi tol seperti biasa.

Tiba-tiba setelah keluar Tol Merak, mulai terlihat penumpukan kendaraan, terutama truk yang sengaja diberhentikan oleh petugas untuk tidak masuk ke pelabuhan. Semakin dekat pelabuhan, kemacetan semakin parah. Kemacetan didominasi oleh mobil pribadi, bus dan travel yang mendapat prioritas untuk masuk pelabuhan lebih dahulu. Butuh waktu 2 jam untuk maju sekitar 40 meter. Padahal untuk ke pintu pelabuhan masih sekitar 1,5 km lagi.

Bisa dibayangkan butuh berapa jam lagi untuk bisa masuk ke kapal. Setidaknya tidak akan kurang dari 6 jam. Penumpang disebelah saya sudah mulai bete, sibuk dengan BB nya, broadcast mengabarkan ke teman-temanya bahwa sedang terjebak macet di Pelabuhan Merak.

Kemudian saya coba tawarkan solusi kepadanya. Bagaimana kalau kita bayar penuh travel Jakarta-Bandar Lampung, namun kita turun di Merak, kemudian berjalan 1,5 km menuju kapal, beli tiket kapal dan cari travel lain di dalam kapal untuk melanjutkan ke Bandar Lampung.

Memang dengan cara itu akan mengeluarkan extra cost sekitar 50 ribu, tapi kita akan menghemat waktu sedikitnya 6 jam. Kalaupun tetap ikut travel tersebut sampai mendapatkan jatah masuk kapal, memang tidak perlu  membeli tiket kapal dan membayar travel tambahan, namun menunggu 6 jam di pelabuhan tentu juga akan mengeluarkan biaya makan tambahan. Makan di pelabuhan bahkan bisa lebih dari 50 ribu, mengingat akan banyak pedagang yang bisa saja memanfaatkan situasi.

Dari tujuh orang yang saya tawarkan solusi tersebut, hanya satu orang yang bersedia meninggalkan travel tersebut, sedangkan penumpang lain tetap bertahan dengan alasan sudah terlanjur membayar penuh sampai Bandar Lampung.

Kemudian kami berdua berjalan setengah berlari-lari kecil melewati sela-sela barisan mobil yang mengular. Memang lumayan capek, tapi hitung-hitung olah raga pagi. Setelah melewati barisan mobil yang sangat panjang itu, akhirnya kami sampai ke tempat penjualan tiket kapal, memakan waktu lebih dari setengah jam.

Membeli tiket kapal Rp. 11.500 untuk satu orang  kemudian kami menuju ke dermaga tiga. Mengapa ke dermaga tiga yang lebih jauh, padahal ada kapal yang stand by di dermaga 1 dan 2?. Karena saat membeli tiket tadi kami sudah bertanya kepada petugas dermaga, kapal mana yang paling cepat sampai ke Pelabuhan Bakauheni Lampung. Petugas tersebutpun memberi bocoran, bahwa kapal yang bagus dan cepat ada di dermaga tiga.

Jam 8 kapal dari dermaga tiga tersebut akhirnya berangkat. Benar kata petugas, kapal tersebut cukup bersih dan nyaman. Bahkan toiletnya juga dijaga oleh satu orang petugas kebersihan yang langsung membersihkan bekas sepatu tiap kali pengunjung pergi meninggalkan toilet. Dalam hati saya berkata, layanan toilet kapal ini sudah sama dengan toilet di Bandara Soekarno Hatta. Hal ini menurut saya luar biasa, karena biasanya toilet-toilet di kapal penyeberangan Merak-Bakauheni sangat bau dan sering tidak ada airnya.

Teman baru saya itu ternyata orang yang juga senang ngobrol, mulai ngobrolin kasus Bupati Garut dilengserkan anggota dewan karena menikah hanya selama 4 hari dengan gadis dibawah umur, ngobrol gebrakan gubernur baru Jakarta (Jokowi-Ahok), ngobrolin bisnis properti yang ia geluti dan masih banyak lagi.

Tak terasa kapal yang kami tumpangi telah berlayar 3 jam dan tengah berusaha sandar di Pelabuhan Bakauheni Lampung. Petugas kapal sudah mulai mengingatkan para penumpang melalui pengeras suara agar para penumpang bersiap-siap turun.

Dengan sigap saya turun ke deck mobil dan mencari-cari mobil travel atau mobil ber plat putih yang biasanya juga mau membawa penumpang ke Bandar Lampung. Rata-rata mereka sudah memiliki penumpang penuh, namun masih ada satu travel yang menyisakan 3 bangku kosong karena ditinggalkan penumpangnya saat antri di Merak tadi. Dan akhirnya kami tidak perlu repot-repot turun dari kapal dan mencari mobil di terminal.

Sambil berseloroh saya bilang ke teman saya tadi, supaya menelpon sopir travel yang kami tinggalkan di Merak tadi. Diapun tak keberatan, langsung ambil BB nya untuk menghubungi sopir travel, diseberang sana sopir itu bilang bahwa mereka belum masuk ke area pelabuhan, antrian masih panjang. Teman saya itupun tertawa kegirangan, dia bilang, “Wah.. kita sudah menghemat waktu 4 jam (1 jam persiapan naik kapal dan 3 jam pelayaran) dan mereka belum juga mendapat jatah masuk kapal”.

Mobil yang kami tumpangi dari atas kapal, mulai meluncur ke arah Bandar Lampung melewati mobil-mobil lain yang berjalan lebih lambat. Tak banyak kendala berarti selama perjalanan Bakauheni ke Bandar Lampung, sehingga dalam 2 jam kami sudah sampai.

Teman saya masih penasaran dengan nasib teman-teman lain di travel yang masih setia menunggu di Merak, diapun kembali menghubungi sopir travel tersebut. Dan ternyata mobil tersebut belum juga masuk ke kapal. Berarti mereka sudah menunggu 6 jam dan belum juga  masuk ke kapal. Dengan begitu, mereka membutuhkan waktu setidaknya 11 jam untuk sampai ke Bandar Lampung.

Dari cerita diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa dengan sedikit terobosan dan keberanian mengambil risiko bisa menghemat waktu yang cukup signifikan. Itu baru satu kejadian, bisa dibayangkan ada ribuan bahkan jutaan kejadian selama kehidupan kita. Jika orang-orang yang mempunyai terobosan dan berani mengambil risiko tadi menghemat 50% waktu untuk tiap kejadian, secara akumulasi juga akan memotong 50% total waktu yang dibutuhkan untuk sukses.

Itulah mengapa orang-orang ini bisa jauh lebih cepat berhasil dibandingkan orang lain yang hanya mengalir megikuti arus.