Penerobos dan Risk Taker

Risk TakerMungkin anda masih bertanya-tanya, mengapa ada orang yang sama-sama memiliki jatah waktu 24 jam sehari, tetapi bisa lebih cepat berhasil ketimbang orang lain?.

Orang matrialistik mungkin akan menjawab, karena ia punya lebih banyak modal berupa materi. Orang akademis mungkin akan menjawab, karena dia mengenyam pendidikan lebih tinggi. Orang psimistis mungkin akan menjawab bahwa ia punya nasib baik atau hoki.

Tapi bukan itu, hidup ini terlalu panjang jika harus melalui semua proses secara alamiah. Butuh terobosan dan keberanian mengambil risiko. Orang-orang yang lebih cepat berhasil biasanya memiliki terobosan-terobosan baru yang tidak dilakukan orang lain, juga ia berani mengambil semua risiko dari terobosan baru tersebut.

Namun jangan juga kita menyalahartikan kedua hal tersebut. Sekarang banyak motivator di TV dan seminar-seminar yang menyebarkan virus ‘gampang’. Buka usaha modal dengkul, bisnis properti tanpa modal, menjadi pengusaha dalam 24 jam dan semacamnya.

Menjadi pengambil risiko bukan berarti tanpa membuat analisa dan pertimbangan, setidaknya butuh analisa ringan dengan membuat skor sederhana agar proses pengambilan keputusan tidak terlalu lama. Saat ini banyak kalangan anak muda yang mengartikan mengambil risiko secara mentah-mentah, bahkan bisa dibilang membabi buta.

Saya suka dengan kata-kata  Buya Hamka “Jika Anda sedang benar, jangan terlalu berani. Jika Anda sedang takut, jangan terlalu takut”. Artinya tetap punya keberanian, namun juga diiringan dengan perhitungan.

Pada tulisan ini saya akan sedikit bercerita bagaimana efek dari berani mengambil risiko. Saya tidak akan menceritakan risiko yang besar dan bombastis agar tidak disalahartikan. Dengan sedikit berani mengambil keputusan, bisa mempersingkat proses yang cukup signifikan.

Pekan ini  menjadi long weekend untuk para karyawan dan pegawai negeri. Karena Sabtu-Minggu libur, selasa natal yang diikuti dengan cuti bersama. Hari senin yang jadi hari kecepit internasional, bisa ijin atau bolos. Tambah asyik lagi juga bertepatan dengan libur sekolah. Ini kesempatan yang sangat langka bagi warga Jakarta untuk pulang kampung. Tak heran jika jalanan menuju keluar Jakarta sangat padat.

Saya yang sebenarnya stay di Lampung kebetulan sedang bertugas di Jakarta untuk satu minggu. Tanpa disangka sebelumnya jadwal pulang saya adalah Jum’at dan menjadi bagian dari kemacetan tersebut. Dengan asumsi kalau naik travel Jum’at malam, maka Sabtu pagi subuh sudah sampai di Bandar Lampung, biasanya begitu.

Tetapi agaknya kali ini agak berbeda, setelah memakan waktu berjam-jam untuk keluar Kota Jakarta, mulai lega setelah masuk ke Tol Tangerang dan berlanjut ke Tol Merak. Tangerang – Merak ditempuh dalam waktu 2 jam seperti biasa. Belum ada firasat buruk sama sekali karena kondisi tol seperti biasa.

Tiba-tiba setelah keluar Tol Merak, mulai terlihat penumpukan kendaraan, terutama truk yang sengaja diberhentikan oleh petugas untuk tidak masuk ke pelabuhan. Semakin dekat pelabuhan, kemacetan semakin parah. Kemacetan didominasi oleh mobil pribadi, bus dan travel yang mendapat prioritas untuk masuk pelabuhan lebih dahulu. Butuh waktu 2 jam untuk maju sekitar 40 meter. Padahal untuk ke pintu pelabuhan masih sekitar 1,5 km lagi.

Bisa dibayangkan butuh berapa jam lagi untuk bisa masuk ke kapal. Setidaknya tidak akan kurang dari 6 jam. Penumpang disebelah saya sudah mulai bete, sibuk dengan BB nya, broadcast mengabarkan ke teman-temanya bahwa sedang terjebak macet di Pelabuhan Merak.

Kemudian saya coba tawarkan solusi kepadanya. Bagaimana kalau kita bayar penuh travel Jakarta-Bandar Lampung, namun kita turun di Merak, kemudian berjalan 1,5 km menuju kapal, beli tiket kapal dan cari travel lain di dalam kapal untuk melanjutkan ke Bandar Lampung.

Memang dengan cara itu akan mengeluarkan extra cost sekitar 50 ribu, tapi kita akan menghemat waktu sedikitnya 6 jam. Kalaupun tetap ikut travel tersebut sampai mendapatkan jatah masuk kapal, memang tidak perlu  membeli tiket kapal dan membayar travel tambahan, namun menunggu 6 jam di pelabuhan tentu juga akan mengeluarkan biaya makan tambahan. Makan di pelabuhan bahkan bisa lebih dari 50 ribu, mengingat akan banyak pedagang yang bisa saja memanfaatkan situasi.

Dari tujuh orang yang saya tawarkan solusi tersebut, hanya satu orang yang bersedia meninggalkan travel tersebut, sedangkan penumpang lain tetap bertahan dengan alasan sudah terlanjur membayar penuh sampai Bandar Lampung.

Kemudian kami berdua berjalan setengah berlari-lari kecil melewati sela-sela barisan mobil yang mengular. Memang lumayan capek, tapi hitung-hitung olah raga pagi. Setelah melewati barisan mobil yang sangat panjang itu, akhirnya kami sampai ke tempat penjualan tiket kapal, memakan waktu lebih dari setengah jam.

Membeli tiket kapal Rp. 11.500 untuk satu orang  kemudian kami menuju ke dermaga tiga. Mengapa ke dermaga tiga yang lebih jauh, padahal ada kapal yang stand by di dermaga 1 dan 2?. Karena saat membeli tiket tadi kami sudah bertanya kepada petugas dermaga, kapal mana yang paling cepat sampai ke Pelabuhan Bakauheni Lampung. Petugas tersebutpun memberi bocoran, bahwa kapal yang bagus dan cepat ada di dermaga tiga.

Jam 8 kapal dari dermaga tiga tersebut akhirnya berangkat. Benar kata petugas, kapal tersebut cukup bersih dan nyaman. Bahkan toiletnya juga dijaga oleh satu orang petugas kebersihan yang langsung membersihkan bekas sepatu tiap kali pengunjung pergi meninggalkan toilet. Dalam hati saya berkata, layanan toilet kapal ini sudah sama dengan toilet di Bandara Soekarno Hatta. Hal ini menurut saya luar biasa, karena biasanya toilet-toilet di kapal penyeberangan Merak-Bakauheni sangat bau dan sering tidak ada airnya.

Teman baru saya itu ternyata orang yang juga senang ngobrol, mulai ngobrolin kasus Bupati Garut dilengserkan anggota dewan karena menikah hanya selama 4 hari dengan gadis dibawah umur, ngobrol gebrakan gubernur baru Jakarta (Jokowi-Ahok), ngobrolin bisnis properti yang ia geluti dan masih banyak lagi.

Tak terasa kapal yang kami tumpangi telah berlayar 3 jam dan tengah berusaha sandar di Pelabuhan Bakauheni Lampung. Petugas kapal sudah mulai mengingatkan para penumpang melalui pengeras suara agar para penumpang bersiap-siap turun.

Dengan sigap saya turun ke deck mobil dan mencari-cari mobil travel atau mobil ber plat putih yang biasanya juga mau membawa penumpang ke Bandar Lampung. Rata-rata mereka sudah memiliki penumpang penuh, namun masih ada satu travel yang menyisakan 3 bangku kosong karena ditinggalkan penumpangnya saat antri di Merak tadi. Dan akhirnya kami tidak perlu repot-repot turun dari kapal dan mencari mobil di terminal.

Sambil berseloroh saya bilang ke teman saya tadi, supaya menelpon sopir travel yang kami tinggalkan di Merak tadi. Diapun tak keberatan, langsung ambil BB nya untuk menghubungi sopir travel, diseberang sana sopir itu bilang bahwa mereka belum masuk ke area pelabuhan, antrian masih panjang. Teman saya itupun tertawa kegirangan, dia bilang, “Wah.. kita sudah menghemat waktu 4 jam (1 jam persiapan naik kapal dan 3 jam pelayaran) dan mereka belum juga mendapat jatah masuk kapal”.

Mobil yang kami tumpangi dari atas kapal, mulai meluncur ke arah Bandar Lampung melewati mobil-mobil lain yang berjalan lebih lambat. Tak banyak kendala berarti selama perjalanan Bakauheni ke Bandar Lampung, sehingga dalam 2 jam kami sudah sampai.

Teman saya masih penasaran dengan nasib teman-teman lain di travel yang masih setia menunggu di Merak, diapun kembali menghubungi sopir travel tersebut. Dan ternyata mobil tersebut belum juga masuk ke kapal. Berarti mereka sudah menunggu 6 jam dan belum juga  masuk ke kapal. Dengan begitu, mereka membutuhkan waktu setidaknya 11 jam untuk sampai ke Bandar Lampung.

Dari cerita diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa dengan sedikit terobosan dan keberanian mengambil risiko bisa menghemat waktu yang cukup signifikan. Itu baru satu kejadian, bisa dibayangkan ada ribuan bahkan jutaan kejadian selama kehidupan kita. Jika orang-orang yang mempunyai terobosan dan berani mengambil risiko tadi menghemat 50% waktu untuk tiap kejadian, secara akumulasi juga akan memotong 50% total waktu yang dibutuhkan untuk sukses.

Itulah mengapa orang-orang ini bisa jauh lebih cepat berhasil dibandingkan orang lain yang hanya mengalir megikuti arus.

6 thoughts on “Penerobos dan Risk Taker”

  1. Supaya bisa menjadi penerobos dan risk taker, bagaimana? rasa takut, dan penuh pertimbangan terkadang begitu menghantui. Terimas kasih jawabannya

  2. Mas Dedi, Takut itu adalah sifat yang manusiawi, asalkan jangan sampai ketakutan. Tipsnya agar tidak ketakutan saya biasanya memegang prinsip bahwa Tuhan tidak akan memberi ujian yang melebihi kemampuan kita. Sehingga kita tidak perlu takut mendapat masalah yang kita tidak mampu menyelesaiakan di depan sana.

    Sering kali juga masalah yang sudah kita bayangkan akan membuat kita kesulitan, ternyata tidak terjadi ketika kita benar-benar menjalaninya dengan optimis. Jadi saya berkesimpulan bahwa kita terlalu banyak terhenti oleh bayangan yang belum tentu terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s