Masih perlukah kerja keras, setelah bisa kerja cerdas?

work-smartPertanyaan diatas merupakan kegelisahan saya akhir-akhir ini terhadap generasi baru yang sudah enggan melakukan kerja keras.

Anak-anak muda fresh graduate merupakan tunas-tunas baru yang seharusnya memiliki semangat dan antusiasme tinggi terhadap dunia barunya, baik dunia kerja maupun dunia usaha yang mereka geluti.

Anak-anak muda ini masih memiliki daya berpikir yang sangat kuat dalam hal mencari ide, menguji sebuah ide sekaligus mengkritisi sebuah ide. Hal ini merupakan makanan sehari-harinya selama menempuh pendidikan formal. Dalam hal menciptakan ide, olah pikir memang lebih dominan dibandingkan dengan olah rasa dan olah raga. Disinlah peran kecerdasan sangat dibutuhkan.

Namun ide saja tidaklah cukup, dibutuhkan kemampuan mengeksekusi sebuah ide supaya menjadi lebih nyata. Dalam hal mengeksekusi ide, semua hal dapat berperan, bukan hanya kecerdasan, tapi juga kekuatan fisik, ketahanan mental dan keteguhan hati. Disinilah proses kolaborasi kerja cerdas dan kerja keras terjadi.

Kerja cerdas berarti mengolah pikiran untuk menemukan cara termudah dan tercepat untuk menggapai tujuan. Kerja keras berarti kesungguhan, kengototan, keseriusan untuk mewujudkan sebuah ide yang kadang kala juga melibatkan kegiatan fisik, mental dan pikiran sekaligus.

Anak-anak tahun 90-an ke bawah, masih terbiasa dengan kegiatan-kegiatan fisik. Permainan sehari-hanrinya juga masih banyak melibatkan fisik. Tempat bermain masih cukup luas, terutama di perkampungan atau kota-kota kelas menengah.

Namun tahun 2010 ke atas, semuanya berubah secara drastis. Permainan yang semula adalah permainan fisik berpindah ke gadget, sehingga anak-anak tidak lagi main sepak bola di lapangan, tapi di gadget. Tenis meja secara fisik sudah dianggap ribet dan banyak biaya, karena ada permainan tenis meja di handphone.

Fenomena ini telah mengakibatkan peralihan kebiasaan hidup, hal-hal yang semula menjadi domain fisik/raga berpindah ke domain pikir/otak.

Orang tidak lagi suka bergerak, karena semua sudah bisa dilakukan dari tempat duduknya. Mau pesan makanan, pesan pakaian, jam tangan, ojek, taxi, tiket pesawat dan kebutuhan lain tidak perlu lagi beranjak dari tempat duduk, cukup menggunakan aplikasi di smartphone semua beres.

Semakin hari kehidupan ini menjadi semakin instan. Semua serba cepat melebihi kecepatan tubuhnya bergerak. Dan akhirnya kerja keras secara fisik tidak lagi dibutuhkan. Benarkah demikian?

Yups… sebagai konsumen, kita memang tidak lagi perlu melakukan kerja fisik apapun. Semua sudah ada dalam genggaman. Semua serba mudah, kita tidak perlu wasting time untuk segala sesuatu. Dan ini sering disebut sebagai kerja cerdas, karena semua bisa berjalan jauh lebih cepat dari biasanya.

Namun bagi produsen, apakah bisa semudah itu?

Produsen yang saya maksud bukan hanya produsen barang, tapi juga jasa yang membuat konsumen nyaman, segala kebutuhanya tersedia secara instan dan semua ada dalam genggamanya.

Pernahkah kita berpikir bagaimana satu paket pizza yang dipesan melalui gadget bisa sampai di meja kerja konsumen dalam hitungan menit?

Produsen pizza menerima order melalui internet atau telepon, kemudian membuatnya dalam beberapa menit, mengemasnya dengan cepat, kemudian bagian delivery tancap gas motor membelah kemacetan kota ditengah terik matahari, mencari jalan-jalan pintas supaya cepat sampai dan akhirnya sampai ditempat konsumen dalam keadaan hangat hanya kurang dari 30 menit sejak dipesan.

Baca juga: Membentuk Salesman Berkualitas Dari Nol

Artinya, produsen tidak cukup hanya kerja cerdas saja, tapi juga harus kerja keras untuk melakukan delivery kepada konsumen dalam waktu yang sangat singkat, demi memuaskan konsumen dan memberikan kehidupan instan bagi konsumen. Sebenarnya yang terjadi bukanlah kehidupan berubah menjadi serba instan, tapi pekerjaan yang seharusnya dilakukan konsumen, dialihkan kepada produsen.

#Kembali kepada generasi muda.

Generasi muda, selama menempuh pendidikan akan lebih banyak menjadi konsumen ketimbang menjadi produsen. Sehingga sudah terbiasa dilayani  ketimbang melayani. Hidupnya semua serba instan, lagi-lagi karena dia sebagai konsumen yang dimanjakan oleh produsen.

Namun ketika lulus sekolah atau kuliah dan memasuki dunia kerja atau dunia bisnis, maka ia akan beralih dari dunia konsumen ke dunia produsen. Nah…masalahnya akan timbul di sini….

Kehidupan serba instan yang selama ini ia nikmati sudah tidak relevan lagi, karena kini ia harus melayani dan memberikan kepuasan kepada konsumen yang juga ingin kehidupanya serba instan. Sedangkan seperti saya ungkapkan diatas bahwa tidak ada rumus kehidupan instan, yang ada adalah pengalihan beban dan tanggung jawab, dari konsumen ke produsen. Kini ia selain kerja cerdas juga harus kerja keras untuk memberikan pelayanan.

Masalahnya mereka tidak biasa kerja keras, sehingga merasa enggan dan malas ketika harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan fisik yang melelahkan. Inilah yang menghasilkan karyawan-karyawan malas, kerja tidak punya antusiasme yang tinggi terhadap pekerjaanya dan menjadi karyawan yang tidak punya motivasi untuk cepat-cepat sukses dalam kariernya.

Begitupun yang memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Sebagai pebisnis, dibutuhkan kerja keras 10 kali lipat daripada karyawan biasa. Harus bangun lebih pagi, tidur lebih larut dari karyawan biasa. Hal-hal yang seharusnya dikerjakan karyawan terpaksa harus ia kerjakan, karena kekurangan SDM dan bisnisnya belum cukup mampu untuk membayar banyak karyawan. Dan masih banyak lagi.

Singkatnya, apakah era sekarang ini kerja cerdas saja sudah cukup dan tidak lagi dibutuhkan kerja keras?

Jawabanya: YA… jika Anda hanya sebagai konsumen. Tapi ketika Anda terjun ke dunia kerja dan dunia produsen, maka jawabanya pasti TIDAK CUKUP, Anda harus KERJA CERDAS dan KERJA KERAS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s