Pasar Komunitas Kultur Indonesia

KomunitasBerkumpul dan berkomunitas merupakan ciri khas masyarakat Indonesia yang telah dibangun sejak ribuan tahun lalu. Masyarakat kita telah lama memegang prinsip gotong-royong dalam hidup, segala hal dapat dilakukan dengan mudah dengan bersama-sama. Bahkan ada pepatah kuno yang mengatakan “makan gak makan asal kumpul”.

Budaya yang telah turun menurun ini tentu memberikan sinyal kepada marketer untuk melakukan sesuatu agar program marketing bisa berjalan dengan memanfaatkan budaya yang ada.

Sering kita jumpai iring-iringan sepeda motor atau mobil yang menggunakan merk dan varian tertentu. Sebut saja komunitas Honda Tiger, Honda Beat, Motor Gede, Yamaha Mio, Ducati, Ninja 250, Mobil VW antik dan masih banyak lagi. Sering juga saya melihat orang-orang yang punya kesamaan hobi, seperti memancing, main yoyo, menulis, melukis grafiti, skate board, dance dan banyak lagi.

Komunitas-komunitas seperti ini terbentuk karena adanya kesamaan passion. Sebagian dari mereka secara alamiah membentuk komunitas dan sebagian lain memang diciptakan oleh pemegang merk.

Keinginan untuk berkomunitas ini juga yang memicu pertumbuhan pengguna facebook di Indonesia melewati angka 43 juta pengguna dan menurut socialbakers.com Indonesia menempati urutan terbesar ke 4 dunia. Tidak mau ketinggalan dengan facebook, twitter, media sosial 140 karakter ini menurut riset semiocast.com meraup lebih dari 19,5 juta akun di Indonesia, dengan raihan ini Indonesia menduduki peringkat ke 5 besar dunia. Jadi jangan heran jika tweet dari Indonesia sering jadi TTWW (Trending Topic World Wide).

Coba kita amati, starbucks yang menjual kopi dengan konsep tempat nongkrong yang nyaman mampu mencatatkan nama Indonesia pada posisi gerai terbanyak ke 8 di seluruh dunia. Padahal harga kopi yang di jual di starbucks relatif mahal sampai IDR 39.000.

Sukses stabucks kemudian diikuti oleh perusahaan asli Indonesia Coffee Toffee yang membuat konsep penjualan kopi mirip stabucks. Saat ini jumlah gerai yang dimiliki Coffee Toffee telah mencapai 114 outlet. Perusahaan yang memenangkan Wirausaha Muda Mandiri Award 2011 ini menargetkan membuka hingga 250 gerai.

Dari convenience store coba kita lihat 7-eleven yang membuka gerai retail layaknya minimarket namun disertai tempat nongkrong yang cukup luas. Convenience store asal Amerika Serikat yang saat ini kepemilikanya dipegang oleh perusahaan Jepang ini sangat mengerti budaya Indonesia yang suka berkumpul. Oleh karenanya 7-eleven memberikan tempat nongkrong yang lebih luas untuk pasar Indonesia dibandingkan gerai 7-eleven di negara lain.

Membentuk komunitas bagi marketer adalah membuat saluran air permanen yang sulit digantikan. Loyalitas komunitas relatif lebih kuat dibandingkan customer yang terpencar-pencar. Customer yang tergabung dalam komunitas biasanya tidak mudah digoyang dengan iming-iming hadiah, diskon atau harga murah. Misalnya komunitas Motor Honda, tentu akan sulit direbut oleh merk lain, karena membeli merk lain, berarti dia akan kehilangan komunitasnya. Dan bagi mereka, persahabatan jauh lebih penting dari segalanya.

Tugas untuk setiap marketer saat ini adalah bagaimana merancang dan mengeksekusi aktifitas marketing untuk memberi saluran yang tepat untuk customer agar dapat berkomunitas, nongkrong bareng, bertemu online maupun offline.

2 thoughts on “Pasar Komunitas Kultur Indonesia”

  1. Itu tantangan Mas Agung, memang membuat komunitas itu gampang-gampang susah. Disitu faktor sosialnya lebih banyak dari faktor marketing. Memang harus membaur dengan mereka, mengetahui apa maunya lalu kita buat saluranya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s