Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu

poorSeorang teman saya yang mengelola LAZIS (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sodaqoh) baru baru ini datang kepada saya dan menceritakan perjuanganya mengentaskan kemiskinan. Tentu ini cerita menarik bagi saya yang sudah lama ingin berperan serta dalam pengentasan kemiskinan.

Ia berangkat dari orang-orang terdekat dengan kantornya. Mulai dengan mendatangi satu keluarga miskin yang berada tidak jauh dari situ. Orang tersebut tidak punya pekerjaan tetap dan sering terlihat mengemis untuk memenuhi kebutuhanya. Ia berusaha mengorek keterangan dari orang tersebut untuk mencari apa yang menjadi kendala dalam hidupnya selama ini sehingga ia menjadi miskin.

Dari situ diketahui bahwa penyebab utama kemiskinanya adalah karena kurangnya ilmu, hanya sedikit keterampilan yang ia miliki, sehingga banyak peluang yang lalu lalang setiap hari di depan matanya tak bisa ia tangkap. Kemudian orang tersebut juga mengaku tidak punya modal untuk sekedar berjualan gorengan atau dagang kecil-kecilan, oleh karenanya memilih mengemis. Tampaknya alasan kedua ini hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Panjang lebar teman saya ini berdiskusi untuk menemukan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengentaskan orang tersebut dari kemiskinanya. Akhirnya disepakati bahwa lembaganya akan memberikan bantuan gerobak untuk berjualan gorengan beserta kompor dan peralatan lainya.

Semua persiapan berjalan cepat, minggu berikutnya orang miskin tersebut beralih profesi dari pengemis ke pengusaha kecil-kecilan. Teman sayapun merasa senang, bangga dan haru melihat semangat orang tersebut untuk bangkit dan keluar dari kemiskinan. Usaha barunya ini sudah mulai memberikan harapan yang cerah untuk masa depanya, usahanya sudah menghasilkan keuntungan walaupun belum banyak.

Teman saya sudah lega bisa menolong satu keluarga miskin dan mulai bergelut dengan aktifitasnya yang padat sebagai dosen disebuah perguruan tinggi negeri sekaligus pengurus LAZIS. Berselang satu minggu, ia menyempatkan waktu untuk berkunjung ke lokasi usaha orang yang ia bantu tersebut. Alangkah kagetnya karena ternyata ia hanya menemukan gerobak kosong tanpa penghuni disitu.

Ia pun berusaha mencari tahu mengapa orang tersebut tidak lagi berjualan. Ternyata orang tersebut telah menjual kompor gas beserta tabung yang diberikan oleh teman saya. Dengan berbagai alasan kebutuhan hidup dan lain-lain. Kemudian teman saya mulai geram, ia memaksa orang tersebut untuk berpikir agar bisa membeli kompor lagi dan berjualan lagi tanpa bantuan dari LAZIS. Ia memberi waktu satu minggu untuk mengusahakanya.

Seminggu berikutnya, teman saya kembali datang untuk mengetahui bagaimana upaya orang tersebut untuk bisa berjualan kembali dan meneruskan kariernya menjadi seorang pengusaha. Ternyata ia harus mendapati kenyataan pahit, bukanya membeli kompor, malah orang tersebut menjual gerobak tempatnya berjualan gorengan. Dengan raut muka sedih dan kecewa akhirnya ia terpaksa harus melepas orang tersebut kembali menjadi pengemis dan berarti ia gagal mengentaskan kemiskinan keluarga tersebut.

Dari situ ia menyimpulkan bahwa kemiskinan itu sebagian besar disebabkan oleh mentalnya, bukan karena ketidakmampuanya. Seorang pengemis, merasa lebih nyaman menjadi pengemis ketimbang menjadi pedagang gorengan. Dengan mengemis, setiap hari ia pasti mendapatkan uang yang jumlahnya justru lebih besar dari keuntunganya berjualan gorengan. Mengemis juga tidak akan menanggung kerugian, karena tidak perlu modal uang, hanya modal memutus urat malunya.

Teman saya ini tidak berhenti disitu, ia masih penasaran dan masih yakin masih ada orang yang bisa ia bantu dan menjadi sukses. Ia mencoba membantu petani penggarap yang ada didekat rumahnya. Petani ini tidak punya lahan sama sekali, ia hanya menggarap lahan tanah kapling yang belum dibangun rumah oleh pemiliknya. Lahan ini semakin lama semakin sempit karena semakin banyak kapling yang didirikan rumah oleh pemiliknya.

Kemudian mereka bersepakat untuk memberi bantuan kambing untuk diternak, karena beternak relatif membutuhkan lahan yang kecil dibandingkan bertani. Ia mulai membelikan tiga kambing untuk dikelola. Namun karena ia telah mendapatkan pengalaman sebelumnya, kali ini ia membuat perjanjian dengan petani tersebut. Isi perjanjianya adalah kambing tersebut tidak boleh dijual, yang boleh dijual adalah anakan hasil perkembangbiakan kambing tersebut. Apabila kambing tersebut mati, maka petani tersebut wajib membawa kaki kambingnya kepada teman saya sebagai bukti bahwa kambing tersebut benar-benar mati, bukan dijual.

Ternyata usahanya kali ini juga mengalami kebuntuan, hanya berselang tiga bulan, salah satu kambing tersebut sudah tidak ada di kandang. Kata petani yang mengelola ternak ini kambing tersebut mati. Lalu teman saya mengingatkan perjanjian yang telah mereka buat, petani tersebut mengaku sudah terlanjur dikuburkan. Tentu alasan ini tidak bisa diterima, karena menurut keterangan tetangga orang tersebut, kambing itu dijual, bukan mati.

Setelah mendengar cerita yang memilukan itu, lantas topik ini menjadi ganjalan dalam pikiran saya. Karena saya masih yakin bahwa kemiskinan bisa diberantas. Tuhan tidak mungkin menakdirkan seseorang menjadi miskin seumur hidupnya jika ia mau berusaha untuk keluar dari kemiskinan.

Menurut analisa sederhana saya, memang lompatan yang terlalu jauh untuk mengubah pengemis menjadi pengusaha. Setidaknya ada beberapa tahapan yang terlewati, sehingga orang tersebut akan merasa perubahan hidup yang sangat drastis, ini sangat mengagetkan tentunya.

Seharusnya ada tahapan dari orang yang tidak punya pekerjaan, dibuatkan lapangan kerja. Ia harus di-manage dulu sebelum bisa me-manage dirinya sendiri. Dari kehidupan yang acak-acakan sebelumnya, mulai ditata dan dibuat lebih teratur. Mulai menerapkan disiplin waktu, kapan harus mandi pagi, kapan harus berangkat kerja, kapan harus berisitirahat, kapan harus sarapan, makan siang, makan malam, dan kapan harus beribadah.

Kalau untuk disiplin waktu saja belum bisa, mana mungkin bisa menjadi pengusaha yang harus melayani pembeli tepat waktu, buka dan tutup secara konsisten, menyediakan bahan baku tepat waktu, mengolah tepat waktu dan menjual tepat waktu.

Kalau mereka sudah mampu disiplin waktu, baru mulai diajarkan untuk bekerja dengan kualitas tinggi, bukan bekerja yang asal-asalan. Tunjukkan perbedaan antara kerja asal-asalan dengan kerja berkualitas. Hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama hingga ia bisa bekerja dengan keterampilan tinggi dan berkualitas tinggi.

Setelah itu baru dilibatkan untuk urusan terkait dengan eksternal perusahaan, misalnya urusan dengan pemasok dan konsumen. Hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan dirinya berhadapan dengan orang lain. Karena ketika nanti ia jadi pengusaha, ia harus bisa meyakinkan mitra-mitra bisnisnya. Tanpa itu, bisnis tidak akan berjalan dengan baik. Pada proses ini dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan. Berarti secara otomatis ia akan belajar berkomunikasi dan mengambil keputusan dengan cepat.

Setelah mampu meyakinkan mitra bisnis, ia sudah bisa mulai diajak mengelola keuangan. Mengelola keuangan bukanlah hal mudah, disitu butuh kedisiplinan, kejujuran, ketelitian dan kecerdasan menerjemahkan transaksi bisnis kedalam laporan keuangan. Tentu belajar ini tidak bisa dalam waktu singkat. Selain melakukan pencatatan, ia juga harus mampu mengalokasikan keuangan, mengatur arus kas agar bisnis berjalan lancar.

Terakhir setelah semua itu berhasil ia pelajari, ia harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan pada tataran strategi bisnis. Sebenarnya inilah kunci dari keberhasilan pengusaha. Strategi bisnis itu seperti mengambil arah perjalanan. Ketika kita salah mengambil arah perjalanan, semakin cepat kita berlari justru akan semakin jauh dari tujuan yang hendak dicapai. Dan sekali salah strategi, akan membutuhkan energi dan waktu yang sangat besar untuk kembali pada jalur yang benar.

Setelah semua itu berhasil ia lakukan dengan baik, baru diajak untuk merancang sebuah usaha, menentukan strategi bisnisnya, merencanakan permodalan dan alokasinya, merencanakan estimasi keuntungan dan perencanaan lain yang diperlukan. Barulah pengucuran pinjaman modal dilakukan dan tetap harus didampingi untuk menjaga konsistensinya.

Anda bisa bayangkan jika persiapan untuk me-launching seseorang menjadi pengusaha yang begitu panjang di bypass begitu saja hanya dalam waktu satu minggu. Wajar saja jika yang terjadi adalah ia akan kembali ke habitatnya dan merasa lebih nyaman menjadi orang miskin ketimbang jadi pengusaha.

Mudah-mudahan tulisan saya yang jauh dari sempurna ini bisa dijadikan renungan siapa saja yang ingin membantu saudara-saudara kita yang kebetulan masih berada di jurang kemiskinan. Semoga bermanfaat. Aamiin.

One thought on “Pengentasan Kemiskinan Perlu Strategi Jitu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s