Arsip Kategori: Selling

Penjualan

Semua Profesi adalah Penjual

Semua Orang PenjualMENJUAL, selama ini melekat pada profesi salesman. Padahal setiap profesi selalu saja berhubungan dengan proses menjual, sebut saja profesi dokter, pengacara, notaris, konsultan, teknisi dan bahkan seorang karyawan bagian administrasipun harus bisa menjual.

Ketika saya mengatakan ini kepada teman-teman non-salesman, biasanya mendapat reaksi penolakan. Sering kali mereka mengatakan bahwa menjual adalah hal yang paling menakutkan dan profesi yang paling tidak ia kuasai. Namun tak peduli apapun alasanya, kita semua harus melakukan penjualan setiap hari.

Seorang dokter anak misalnya, sampai harus mendesain ruang praktiknya dengan berbagai sticker tokoh-tokoh kartun yang disukai anak-anak. Memberikan tontonan menarik melalui layar LCD yang berada tepat didepan anak yang sedang diperiksa. Menenangkan anak-anak dengan suara lembut dan candaan yang membuat anak-anak tidak takut pergi ke dokter. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika seorang dokter anak memberikan layanan Lanjutkan membaca Semua Profesi adalah Penjual

Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana

Christian F Gusway dan Andi IrawanGramedia Matraman tampak ramai seperti akhir pekan biasanya, namun hari ini (6/7/2013) tampak ada hal berbeda ketika terpampang backdrop bertuliskan “Seminar Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana Bersama Christian F. Guswai”. Terpampang beberapa logo perusahaan terkenal dan salah satunya adalah Acosys sebagai sponsor acara tersebut.

Acosys sendiri adalah sebuah software bisnis dan akuntansi yang telah dipakai oleh ribuan perusahaan di seluruh Indonesia. Software nasional yang sangat fleksibel ini merupakan pemegang Wirausaha Muda Mandiri Award untuk bidang industri kreatif.

Christian F. Guswai sudah dikenal luas oleh pelaku bisnis retail sebagai Lanjutkan membaca Memastikan Penjualan dengan 4 Langkah Sederhana

Para Pembantu Menjadi Marketer Hotel Berbintang

Pembantu Rumah TanggaMarketer sebuah hotel berbintang lazimnya adalah sosok keren, rapih, berdasi, bersih dan bahasanya tertata santun karena sering mengikuti workshop personal building. Tapi apa jadinya jika para pembantu rumah tangga yang biasa mengurusi urusan belakang, tiba-tiba menjadi marketer handal untuk hotel-hotel berbintang di kota-kota besar?

Hal ini bukanlah cerita humor ala Opera Van Java, tapi kenyataan dihadapan kita, angkanya setiap tahun juga terus meningkat.

Orang-orang yang sekarang menjadi kaya dan super kaya, banyak diantaranya juga berasal dari orang tidak berpunya. Namun seiring dengan meningkatnya kekayaan, gaya hidupnya juga terus bergeser. Dari awalnya mencuci pakaian sendiri, masak sendiri, bersih-bersih rumah sendiri, kemudian berkembang  mulai menjalankan tugas dibantu oleh  berbagai mesin untuk sedikit meringankan tugas.

Setelah nilai kekayaan meningkat lagi, rasanya mesin-mesin ini masih tetap saja merepotkan, karena harus dioperasikan sendiri dan masih memakan waktu. Kemudian meningkat lagi, Lanjutkan membaca Para Pembantu Menjadi Marketer Hotel Berbintang

Jalan buntu pedagang minyak tanah

Seorang bapak tua, tampaknya sudah berumur 60 an, mendorong gerobak tuanya. Gerobak ini adalah satu-satunya gantungan hidupnya untuk mencari sesuap nasi.

“Sekarang susah cari uang mas, padahal dulu bisa dua kali balik, sekarang satu jerigen aja gak pernah habis seharian”, keluhnya seakan tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi.

Pak Pur, begitu biasanya ia disapa, adalah salah satu orang yang menjadi korban konversi minyak tanah ke LPG. Sebuah kebijakan spektakuler yang telah membawa kemajuan puluhan juta orang, namun tidak pada Pak Pur.

Setiap kebijakan pasti akan ada pihak-pihak yang diuntungkan, namun disisi lain juga pasti akan ada pihak yang menjadi korban.

Pak Pur tampaknya adalah salah satu yang menjadi korban. Bahkan Pak Pur tetap saja rajin mendorong gerobaknya setiap hari, seolah tak peduli dengan perubahan yang tengah terjadi.

Dengan polosnya Pak Pur terus berdo’a agar paceklik orderan ini segera berakhir. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk beralih profesi, karena berjualan minyak tanah inilah yang telah ia jalani puluhan tahun. Sebuah profesi yang telah melepaskanya dari lubang jarum dimasa-masa sulit dulu.

Saya tidak habis pikir, apakah keputusanya untuk menjual minyak tanah adalah karena kecintaanya pada profesi itu, atau karena ketidaktahuanya akan prospek minyak tanah kedepan, sehingga terus ditekuninya.

Namun secara tersirat ia sebenarnya mengatakan bahwa profesi itulah yang ia kuasai untuk dilakukan. Untuk mencoba yang lain tampaknya tidak cukup keberanianya.

Berspekulasi tentu bukan keahlianya. Itulah tampaknya membuat ia tidak pernah mencoba yang lain. Pak Pur bisa dibilang punya presistensi yang cukup tinggi dalam hal ini.

Namun apalah artinya presisten jika bidang yang ia jalani adalah jalan buntu. Hanya menunggu waktu untuk benar-benar berhenti?

Atau akankah nasibnya akan benar-benar berubah seiring waktu?

Seberapa Pentingkah Menyimpan Nomor HP Konsumen?

 

HP

 

Beberapa hari yang lalu saya menghubungi sales Adira untuk yang kedua kalinya. Kebetulan saya berstatus  sebagai konsumen.

Saya     : Halo..Pagi Mas Boby…

Sales    : Halo..siapa ini ya? (dalam hati, waduh..kok nomorku gak disimpan, biasa…konsumen kan merasa selalu penting, apalagi proses jual beli belum selesai).

Saya     : Iwan mas, yang kemarin ngajuin kredit.

Sales    : Iwan yang mana ya? (waduh…lebih gawat lagi nih, padahal kemarin sudah ngobrol banyak sama dia)

Saya     : Ya sudah mas kalau gak ingat, makasih ya…(weleh-weleh..ngambek nih ceritanya. Egonya mulai keluar, gak kredit sama kamu gak “patheken”, banyak yang lainya.)

Saya tak habis pikir, apakah memang gaya sales leasing seperti itu (maklum ini yang pertama ngajuin leasing). Mungkin sales tersebut berfikir, “siapa yang butuh?”. Memang sih, orang yang mengajukan kredit biasanya orang yang butuh pinjaman, dan biasanya juga orang yang butuh pinjaman mau-mau aja diperlakukan kurang sedap asalkan pinjamanya keluar.

Tapi dalam bisnis Lanjutkan membaca Seberapa Pentingkah Menyimpan Nomor HP Konsumen?