Semua Profesi adalah Penjual

Semua Orang PenjualMENJUAL, selama ini melekat pada profesi salesman. Padahal setiap profesi selalu saja berhubungan dengan proses menjual, sebut saja profesi dokter, pengacara, notaris, konsultan, teknisi dan bahkan seorang karyawan bagian administrasipun harus bisa menjual.

Ketika saya mengatakan ini kepada teman-teman non-salesman, biasanya mendapat reaksi penolakan. Sering kali mereka mengatakan bahwa menjual adalah hal yang paling menakutkan dan profesi yang paling tidak ia kuasai. Namun tak peduli apapun alasanya, kita semua harus melakukan penjualan setiap hari.

Seorang dokter anak misalnya, sampai harus mendesain ruang praktiknya dengan berbagai sticker tokoh-tokoh kartun yang disukai anak-anak. Memberikan tontonan menarik melalui layar LCD yang berada tepat didepan anak yang sedang diperiksa. Menenangkan anak-anak dengan suara lembut dan candaan yang membuat anak-anak tidak takut pergi ke dokter. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika seorang dokter anak memberikan layanan tidak nyaman bagi anak dan cenderung menakutkan?. Pasti sebagian besar anak-anak tidak jadi berobat dan menangis minta pulang, dokterpun akan gigit jari.

Pernah melihat seorang mekanik bengkel memberikan penjelasan kerusakan dan pilihan spare part untuk pelangganya?. Biasanya mereka menawarkan pilihan spare part original dan KW kepada pelanggan, karena goalnya adalah pelanggan tersebut mau membeli spare part, tidak masalah baginya mereka memilih yang original maupun KW karena ongkos pasangnya tetap sama. Sadar atau tidak, mekanik tersebut sudah melakukan penjualan spare part dan jasa pemasangan.

Apakah mengacara juga membutuhkan kemampuan menjual? Tentu iya, sekalipun tidak semua klien yang ia tangani berhasil lepas dari jerat hukum, namun ia bisa menceritakan sisi lain dari kasus tersebut yang bisa menjadi selling point, misalnya hukuman yang lebih ringan dari seharusnya, proses hukum yang lebih cepat, kemampuan menggali pasal-pasal yang bisa meringankan hukuman dan hal lain yang membuat calon klienya mempercayakan kasus hukum kepadanya.

Di dalam perusahaan, pemimpin perusahaan haruslah seorang yang pandai menjual, setidaknya menjual ide supaya bawahanya mengerti dan bersedia mewujudkan apa yang ia programkan. Seorang pimpinan perusahaan juga tidak bisa menghindari negosiasi-negosiasi besar dengan mitra bisnisnya. Memaparkan proyek-proyek besar kepada investor atau pemegang saham dan menjelaskan strategi bisnis yang jitu supaya investasi dapat kembali dalam waktu yang lebih singkat.

Lalu apakah karyawan biasa juga membutuhkan kemampuan menjual?. Ya, pasti. Setidaknya ia harus bisa menjual kemampuanya supaya pimpinan perusahaan tahu seberapa besar ia layak mendapatkan reward dan jenjang karier. Pimpinan tidak akan tahu seberapa hebat kemampuan karyawan sampai dia membuktikan mampu menyelesaikan tugas-tugas besar yang ia emban. Untuk mendapatkan tugas besar tersebut, butuh kemampuan menjual dan meyakinkan pimpinan bahwa ia mampu melakukan semua itu.

Dengan demikian tidak ada alasan seorang teknisi atau operator mesin tidak belajar bagaimana Selling Skillmenjual, sekalipun setiap hari yang ia hadapi adalah mesin. Namun tetap saja ada kalanya harus berhubungan dengan orang lain untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan mesin-mesin yang ia hadapi. Nah saat proses menjelaskan inilah dibutuhkan kemampuan menjual yang elegan.

Biasanya karyawan yang bekerja dengan mesin menjadi malas belajar berkomunikasi yang baik untuk dapat menjual, karena dalam benaknya ilmu komunikasi tidak dibutuhkan, toh setiap hari yang ia hadapi adalah mesin-mesin yang bersifat mekanik. Mulai sekarang harus diubah, bahwa Anda juga seorang penjual yang ulung.

Kalau sudah mengerti bahwa setiap profesi membutuhkan kemampuan menjual, sebenarnya apa sih yang membuat orang enggan menjual?.

Salah satu jawaban yang paling populer adalah malu dan takut ditolak. Bahkan ada yang mengasumsikan derajat seorang salesman hanya satu tingkat lebih tinggi dari seorang pengemis yang meminta-minta. Ini adalah salah besar. Karena seseorang yang melakukan penjualan tidak seharusnya merendahkan diri sebagai peminta-minta order. Mindset yang harus ditanamkan adalah bahwa seorang penjual merupakan orang yang memberi solusi atas kebutuhan orang lain. Dengan mindset seperti itu, siapapun tidak perlu malu menjual.

Yang kedua takut ditolak. Nah ini tidak ada obatnya, karena kita tidak bisa memaksa semua orang sependapat dengan kita. Lagi pula seorang penjual tidak membutuhkan setiap penawaranya disetujui oleh semua orang. Penjual hanya membutuhkan 10% orang yang diberi penawaran setuju melakukan order. Berarti yang harus dilakukan adalah memperbanyak penawaran dan memperbaiki cara menawarkan.

Pertanyaan berikutnya, kemampuan seperti apa yang dibutuhkan dalam menjual bagi semua profesi ini?

Sebenarnya sederhana saja. Pertama ia harus mengetahui apa yang dibutuhkan orang yang sedang ia hadapi dan mengetahui apa yang bisa ia berikan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Artinya seorang penjual harus menggali apa yang sebenarnya dibutuhkan calon pembelinya. Sering kali yang tampak dipermukaan tidaklah sama dengan apa yang benar-benar ia butuhkan. Butuh beberapa pertanyaan untuk menggali. Maka janganlah malas bertanya, dan lagi-lagi yang harus diluruskan adalah bertanya bukanlah hal nista. Bertanya bukan berarti kita betul-betul tidak tahu, tapi kita ingin memastikan apakah yang kita pikirkan tentang apa yang dibutuhkan calon pembeli sudah benar.

Setelah menggali apa yang customer butuhkan, kita harus melakukan konfirmasi, apakah yang kita tangkap sudah sama dengan yang ia utarakan. Sampai proses ini seharusnya apa yang customer mau sudah bisa ditangkap dengan baik. Tinggal bagaimana kita memberi solusi atas kebutuhan tersebut.

Solusi yang sama diungkapkan oleh orang berbeda kadang menghasilkan respon yang berbeda. Lalu dimana letak kesalahannya?. Memberikan solusi harus tepat pada sasaran permasalahan yang dituju, baru menjelaskan teknik implementasinya. Jika terbalik, bisa mengesankan solusi yang diberikan berbelit-belit, rumit dan bisa jadi terkesan kita tidak memahami solusi tersebut secara mendalam sehingga harus berputar-putar untuk menjelaskan.

Ingat, hanya orang yang menguasai persoalan secara mendalamlah yang dapat menjelaskanya secara simpel dan mudah dipahami. Semakin tidak menguasai persoalan, penjelasanya dipastikan akan semakin berputar-putar.

Kembali ke masalah menjual, kita harus menyusun alur penjelasan supaya mudah diikuti oleh alur berpikir orang yang sedang diajak bicara. Hal ini untuk meminimalisir penolakan diawal sebelum ia menerima secara keseluruhan solusi yang akan kita berikan. Hal ini sangat penting, karena penolakan sebalum mereka tahu apa yang kita tawarkan sama halnya kita kalah sebelum bertanding atau seperti bunga yang layu sebelum berkembang.

Selamat menjual dan sukses untuk Anda semua…..

4 thoughts on “Semua Profesi adalah Penjual”

  1. Apa kabar mas Iwan Setiawan… ulasannya menarik.., memang semua profesi tanpa disadari selalu menerapkan konsep menjual… hanya bila seseorang yang memang bukan berprofesi sebagai penjual / sales sering tidak menyadari hal tersebut… menjual adalah ujung dari semua profesi… saya sendiri sangat menikmati berprofesi sebagai seorang penjual / salesman… Bravo Salesman… !

  2. Mas Auiway, oke, makasih mas.

    Mas Y.Hermawan, Alhamdulillah sehat mas. Ya, memang banyak yg tidak meyadari, tapi dengan menyadari bahwa semua profesi adalah penjual, maka akan bisa menempatkan diri pada posisi yang lebih baik. Bravo Salesman🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s