Motivasi Alamiyah oleh Alam

PendakianMotivasi, sebuah dorongan agar seseorang melakukan sesuatu. Banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk memberi motivasi kepada karyawanya agar melakukan tugas dengan baik. Mulai dari perbaikan kesejahteraan, memberikan coaching dan yang paling umum adalah mendatangkan motivator untuk memberika sesi motivasi atau workshop.

Kali ini Aztechsoft Int. sebuah perusahaan software akunting nasional yang berbasis di Lampung mengadakan sesi motivasi dengan cara yang berbeda. Sesi ini dikemas dalam bentuk wisata keluarga yang sangat menantang dan langsung berhadapan dengan alam liar yang tidak diketahui sebelumnya.

Hari sabtu pagi kantor terlihat sepi, tidak seperti biasanya yang setiap jam 8.00 aktifitas karyawan telah dimulai dengan briefing dan pembagian jadwal pekerjaan. Kali ini pintu tertutup rapat tampaknya tak seorangpun didalam.

Satu persatu karyawan beserta keluarganya berdatangan jam 10 pagi. Mereka membawa anak-anak dan istrinya dengan membawa tas-tas berisi pakaian dan perlengkapan. Tampaknya mereka akan mengungsi sementara. Ya..benar!!, siang ini mereka akan berangkat ke salah satu hutan kawasan yang berdampingan dengan hutan lindung register 19, Taman Wisata Wan Abdurrahman atau sering disebut youth camp.

Taman wisata ini merupakan taman wisata alam yang menyajikan air terjun hinggal 13 tingkat dan hutan belantara. Semua masih tampak asli tanpa rekayasa, tampaknya taman wisata ini juga dikelola ala kadarnya. Tapi itulah yang membuat daya tarik tersendiri. Nuansa liar masih sangat terasa, bangunan toilet lama yang tak dikelola, tanpa lampu penerangan sedikitpun, lembab dan kotor menambah nuansa angker lokasi ini.

Belum lagi cerita para pecinta alam yang sering berkemah disini yang membuat merinding bulu kudu. Cerita kesurupan masal, diganggu mahluk halus, ditemui harimau, ditemui ular dan cerita lain yang membuat gamang namun penasaran.

Namun keputusan sudah diambil, kami akan bermalam disini menggunakan peralatan seadanya. Tenda 3 buah yang hanya cukup untuk wanita dan anak-anak, sedangkan kaum pria direncanakan tidur di alam terbuka beralaskan koran bekas.

Kami membentuk 3 tim yang bergerak bersamaan, satu tim mendirikan tenda, satu tim mencari kayu untuk api unggun dan satu tim memasak menggunakan kayu bakar serta tungku dari batu yang disusun sederhana.

Mungkin ini adalah pengalaman baru bagi banyak karyawan yang terbiasa hidup di kota, semua serba eletrik, memasak menggunakan kompor gas dan panci canggih yang bisa memasak dalam waktu sangat cepat. Disini semua seadanya mengandalkan bantuan alam. Tampak beberapa juru masak yang kesulitan menghidupkan api dari kayu bakar, mereka memasukkan kayu terlalu banyak sehingga tidak ada ruang pembakaran yang cukup untuk menjaga api tetap hidup.

Ada juga beberapa karyawan yang masa kecilnya memang hidup di kampung dan memasak menggunakan kayu bakar. Meskipun sudah puluhan tahun tidak memasak menggunakan kayu bakar, mereka masih bisa menyesuaikan diri dengan mudah.

Malam mulai merambat dan kegelapan mulai menyelimuti, tanpa penerangan listrik, hanya dua buah lampu minyak tanah dan beberapa lampu senter kecil. Anak-anak yang sebelumnya bermain dengan ceria, mulai merapat ke ibunya masing-masing, tampaknya mereka tak terbiasa dengan kegelapan. Dalam kegelapan, hutan yang mengelilingi lokasi perkemahan terlihat lebih serem, suara-suara binatang juga mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Kunang-kunang tampak lalu lalang seperti bintang yang sedang berpindah-pindah.

Acara pertama, kami mulai dengan makan malam, sekali lagi tidak ada peralatan makan yang memadahi, tak ada piring, sendok dan gelas yang memadai. Masing-masing mengambil selembar kertas minyak untuk piring darurat. Semua tampak lahap memakan hasil karya ibu-ibu, mereka memasak dengan air mata bercucuran, pedih terkena asap kayu bakar yang tidak terlalu kering. Disitu dapat disimpulkan, sebenarnya makan itu enak dikala lapar, apapun yang dimakan dan dengan peralatan apapun tetap terasa nikmat.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara pebukaan dan menyalakan api unggun. Lokasi perkemahan mendadak menjadi terang dan hangat. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk memainkan beberapa game tentang bekerja dalam tim, kepemimpinan dan kedewasaan dalam menentukan pilihan. Semua berjalan seru, semua peserta tidak menyangka mereka akan mendapatkan permainan yang asyik namun memberikan pelajaran berharga. Tampak beberapa orang baru menyadari apa yang ia lakukan selama ini salah setelah mengikuti game. Panitia game menjelaskan makna filosofi game tersebut sesaat setelah permainan selesai.

Game-game sederhana ini ternyata mampu membuka kesadaran masing-masing personal bahwa bekerja dalam tim yang solid, saling memahami, mematuhi instruksi pimpinan itu sangat penting untuk menggapai satu cita-cita bersama. Mereka melakukan langsung dan mengalami langsung akibat dari keputusan yang mereka buat saat game berlangsung. Ini pengalaman yang jauh melebihi kata-kata seorang motivator.

Tak terasa sudah tengah malam, kami harus beristirahat untuk mempersiapkan pendakian air terjun esok pagi. Sebagian mengambil koran bekas untuk alas tidur dan sebagian lagi berjaga sambil menyanyikan lagu ngalor ngidul diiringi gitar yang terdengan sumbang.

Pagi subuh semua dibangunkan untuk melaksanakan shalat dan mempersiapkan pendakian. Pagi jam 8 setelah sarapan semua berkumpul. CEO Aztechsoft Int. Sri Wahono memberikan sedikit pengarahan dan instruksi. Semua karyawan baik laki-laki maupun perempuan wajib mengikuti pendakian, sedangkan keluarga diperbolehkan ikut bagi yang mau.

Sebenarnya banyak karyawan yang ragu-ragu, pertama karena tidak ada yang terlatih untuk mendaki air terjun terjal dan tinggi, kedua tidak ada peralatan keamanan yang memadai dan ketiga tidak pernah berlatih sebelumnya. Medan yang akan ditempuh juga belum diketahui. Semua hanya berbekal keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin.

Bapak Sri Wahono menekankan bahwa belum tentu yang kita takuti tidak bisa kita lakukan. “Kita sering takut pada bayangan dan perasaan. Hari ini buang jauh-jauh perasaan, kita menggunkan logika saja untuk memutuskan sesuatu, karena perasaan sering salah dan menipu.”

Dalam pendakian kali ini tidak ada yang diperbolehkan membawa perbekalan air minum apa lagi makanan. Semua mengandalkan bantuan alam untuk survive. Kerja tim sangat dibutuhkan untuk bisa bersama-sama mencapai puncak dengan tim yang utuh. Yang kuat membantu yang lemah, dan yang lemah harus punya motivasi kuat untuk bangkit dan berusaha dengan seluruh kemampuanya. Semua tampak ekstrim, tapi inilah cara yang disepakati untuk menumbuhkan keberanian dan mengerti makna bekerja dalam tim yang sesungguhnya. Mendidik agar menjadi orang-orang tangguh, tidak cengeng dan berani melangkah apapun risikonya.

Mental-mental seperti ini yang dibutuhkan perusahaan teknologi untuk bisa survive dan berkembang menaklukkan dunia.

Tidak disangka, saat beberapa karyawan tampak gamang, justru anak-anak yang masih berumur 10-13 tahun mengajukan diri untuk ikut bertualang. Awalnya kami ragu, tapi keberanian mereka patut diapresiasi, akhirnya kami mengijinkan mereka turut serta dalam pendakian ini. Salah satu dari anak-anak tersebut bahkan ada yang wanita.

Kamipun berangkat dengan satu tim utuh terdiri dari seluruh karyawan dan 3 orang anak kecil. Perjalanan dari lokasi perkemahan ke air terjun pertama sekitar 1 km dengan medan yang naik turun sudah cukup menguras tenaga. Nafas mulai tersengal-sengal terlihat jelas jarang berolah raga.

Sampai juga akhirnya di air terjun pertama. Tampak batu berdiri tegak terjal 90 derajat setinggi lebih dari 10 meter. Itulah medan pertama yang harus ditaklukkan. Anak-anak langsung tancap gas, mendatangi batu tegak tersebut dan langsung mencoba memanjatnya. Mencari batu yang bisa dijadikan pijakan kaki dan pegangan tangan. Mereka dibantu salah seorang personal yang telah naik lebih dulu.

Beberapa karyawan justru terdiam dan wajahnya mulai pucat menampakkan kekhawatiran, satu orang meminta ijin tidak ikut naik dengan alasan sakit, dan satu orang lagi meminta ijin tidak ikut naik dengan alasan menemani temanya yang sakit.

Teman-teman lain memberi semangat kepada dua orang ini agar tetap ikut naik, memberi sugesti bahwa sakitnya itu akan sembuh ditengah perjalanan. Akhirnya merekapun memutuskan untuk ikut naik.

Air terjun pertama ini mungkin yang paling menakutkan karena baru melihat pertama kali batu terjal yang berdiri kokoh itu harus didaki tanpa alat apapun dan tanpa pengalaman sedikitpun. Salah satu yang membuat semua tim yakin adalah anak-anak sudah berada diatas dan berteriak-teriak memberi semangat orang-orang yang masih ada dibawah.

Dengan keyakinan penuh, tangan dan kaki mulai meraba-raba mencari pijakan, mengangkat badan dengan hati-hati, memindahkan kaki dari satu pijakan ke pijakan lain. Batu-batu ini benar-benar alami, pijakan yang didapat juga pijakan alami yang letaknya tidak beraturan, ada yang terlalu dekat dan ada yang terlalu jauh untuk digapai.

Butuh keyakinan penuh, kekuatan fisik dan teknik yang tepat untuk bisa naik sampai ke atas. Dalam waktu kurang dari 30 menit, seluruh tim berhasil menaiki air terjun pertama.

Hanya berjarak kurang dari 20 meter, air terjun kedua yang tak kalah mengerikan berdiri tegak menantang. Lagi-lagi anak-anaklah yang pertama kali sanggup melewatinya, sungguh luar biasa. Mungkin karena mereka tidak terlalu banyak berfikir takut jatuh, takut batu yang dipegang runtuh, takut ada batu besar menggelinding dari atas air terjun dan banyak ketakutan lain. Mereka just do it!! action..action dan action.

Ini pelajaran pertama yang bisa diambil, “Ketakutan hanya akan menghambat langkah, keberanian akan mendatangkan energi besar untuk melewati semua rintangan”.

Pengalaman dari air terjun pertama dan kedua tampaknya telah menumbuhkan keberanian seluruh tim. Bahkan salah satu tim yang kakinya bengkak karena terkilir sebelum pendakian, semakin yakin bisa menaklukkan air terjun sampai ke puncak dengan bantuan beberapa rekanya.

Satu persatu lapisan air terjun berhasil kami lalui, rasa lelah mulai menjalar dan tentunya rasa haus mulai mencekik leher. Tidak ada perbekalan air minum yang boleh kami bawa, akhirnya air pegunungan mentah tanpa olahan itu satu-satunya pilihan untuk diminum. Luar biasa, baru kali ini kami merasakan air minum sesegar ini, jauh lebih segar dari air minum dalam kemasan merek terbaik di negeri ini.

Ditengah jalan, tampaknya cuaca tidak bisa diajak kompromi, hujan turun cukup lebat. Hujan ini membuat bebatuan yang sebelumnya kering dan mudah dilewati menjadi basah. Lumut yang menempel di bebatuan itu menjadi basah dan licin.

Komandan tim menanyakan kepada seluruh peserta apakah akan melanjutkan perjalanan atau akan berhenti, mengingat medan yang licin sangat berbahaya. Tidak disangka, seluruh tim menyuarakan “Lanjut..!!!”. Tampak wajah-wajah optimis dan berbinar yang membuat kami yakin apa yang mereka katakan adalah murni dari hati nurani, bukan hanya karena takut terkena sanksi dari komandan tim. Pendakianpun dilanjutkan dengan medan yang lebih sulit dari semula.

Tiba-tiba tim yang paling depan berteriak girang “Kita sampai puncak…kita sampai puncak..”. Tampak tinggal satu air terjun yang tingginya sekitar 30 meter dan diseberangnya hanya tampak langit biru. Kami semua menduga ini adalah air terjun terakhir.

Kami pun beristirahat untuk melepas lelah, minum air sungai yang segar dan meregangkan otot-otot kaki yang mulai pegal-pegal menahan berat badan.

Komandan tim memutuskan untuk berhenti sampai disini, karena untuk melanjutkan keatas tampaknya terlalu berbahaya dengan kondisi badan yang lelah dan batu yang sangat terjal dan tinggi. Namun beberapa orang tidak puas berhenti sampai disini, satu persatu mereka mencoba menaikinya. Komandan tim mengijinkan hanya bagi yang berani dan masih kuat saja.

Delapan orang memanjat sedikit demi sedikit, akhirnya mereka sampai juga diatas. Dan mereka melihat masih ada air terjun yang lebih tinggi lagi didepan. Merekapun diinstruksikan untuk turun dan bergabung dengan tim lain. Ternyata kami berada di air terjun ke 10 dari 13 air terjun yang ada.

Sekalipun tidak sampai air terjun ke 13, cukuplah pendakian ini sebagai momentum luar biasa bagi kami semua. Setiap peserta diberikan kesempatan 5 menit untuk memberikan kesan-pesan mereka selama pendakian. Berikut ini kesan-pesan yang mereka ungkapkan:

  1. Kita tidak perlu takut pada bayang-bayang, lakukan saja dan kita akan menemukan jalan.
  2. Jangan perpikir tidak bisa sebelum mencobanya.
  3. Kita sering tergelincir bukan pada saat menghadapi permasalahan besar, tapi justru saat melewati batu-batu kecil karena kita menyepelekanya.
  4. Tahapan pendakian yang dijalani ini seperti tangga kenaikan perusahaan, kita saat ini sudah mencapai tingkat nasional dan diatasnya masih ada lagi dan kita ibaratkan air terjun yang diatas itu adalah pasar internasional yang harus kita taklukkan.
  5. Untuk menggapai keberhasilan tidak cukup hanya pintar, tapi yang utama harus berani.
  6. Halangan kecil – seperti sakit – akan teratasi dengan sendirinya ketika kita terus berjalan dengan semangat tinggi. (Ini terbukti peserta yang dari awal sakit menjadi sembuh total, bahkan menjadi salah satu yang ikut naik ke air terjun terakhir)
  7. Kita menjadi lebih kuat ketika bekerja dalam tim dan saling menolong.
  8. Jangan menghiraukan kata-kata orang lemah yang mengajak berhenti berjuang.
  9. Makin kepuncak makin penasaran untuk melihat lebih atas lagi.
  10. Saat kita berada diketinggian, harus berhati-hati, karena jika terjatuh itu berjalan cepat dan menyakitkan.

Setelah semua peserta mengungkapkan kesan pesan yang sebagian besar hampir sama, kami memutuskan untuk turun. Dan ternyata turun bukanlah perkara mudah, beban tubuh terasa lebih berat ketimbang saat mendaki.

Akhirnya kami semua berhasil turun dengan tim yang utuh. Turun dari gunung dengan motivasi alam yang benar-benar meresap disanubari, semua berjalan alamiah ditengah kekhawatiran, ketakutan dan ketidak yakinan. Ternyata semua bisa berhasil dengan tekat kuat, memelihara semangat dan kerja tim yang solid.

Saya sangat yakin motivasi alamiyah ini akan terbawa terus dalam pekerjaan sehari-hari untuk berjuang memajukan perusahaan bersama-sama. Tidak takut mencoba dan tidak takut gagal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s