Jalan buntu pedagang minyak tanah

Seorang bapak tua, tampaknya sudah berumur 60 an, mendorong gerobak tuanya. Gerobak ini adalah satu-satunya gantungan hidupnya untuk mencari sesuap nasi.

“Sekarang susah cari uang mas, padahal dulu bisa dua kali balik, sekarang satu jerigen aja gak pernah habis seharian”, keluhnya seakan tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi.

Pak Pur, begitu biasanya ia disapa, adalah salah satu orang yang menjadi korban konversi minyak tanah ke LPG. Sebuah kebijakan spektakuler yang telah membawa kemajuan puluhan juta orang, namun tidak pada Pak Pur.

Setiap kebijakan pasti akan ada pihak-pihak yang diuntungkan, namun disisi lain juga pasti akan ada pihak yang menjadi korban.

Pak Pur tampaknya adalah salah satu yang menjadi korban. Bahkan Pak Pur tetap saja rajin mendorong gerobaknya setiap hari, seolah tak peduli dengan perubahan yang tengah terjadi.

Dengan polosnya Pak Pur terus berdo’a agar paceklik orderan ini segera berakhir. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk beralih profesi, karena berjualan minyak tanah inilah yang telah ia jalani puluhan tahun. Sebuah profesi yang telah melepaskanya dari lubang jarum dimasa-masa sulit dulu.

Saya tidak habis pikir, apakah keputusanya untuk menjual minyak tanah adalah karena kecintaanya pada profesi itu, atau karena ketidaktahuanya akan prospek minyak tanah kedepan, sehingga terus ditekuninya.

Namun secara tersirat ia sebenarnya mengatakan bahwa profesi itulah yang ia kuasai untuk dilakukan. Untuk mencoba yang lain tampaknya tidak cukup keberanianya.

Berspekulasi tentu bukan keahlianya. Itulah tampaknya membuat ia tidak pernah mencoba yang lain. Pak Pur bisa dibilang punya presistensi yang cukup tinggi dalam hal ini.

Namun apalah artinya presisten jika bidang yang ia jalani adalah jalan buntu. Hanya menunggu waktu untuk benar-benar berhenti?

Atau akankah nasibnya akan benar-benar berubah seiring waktu?

One thought on “Jalan buntu pedagang minyak tanah”

  1. Tulisan ini sangat menarik dan mengusik. Menurut saya presistensi sangat dibutuhkan dalam segalal bidang, tetapi presistensi bukan harga mati bagi kita untuk tetap kita miliki dan kita jalani.
    Yang dibutuhkan adalah saat ini presistensi yang kreatif, inovatif dan mampu untuk dapat kita kaji ulang atas presistensi tersebut, apabila kita menemukan kebuntuan dalam setiap usaha atau aktifitas kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s