Memberi Pengemis atau Pedagang Asongan?

Seorang bocah yang baru 12 tahunan, dengan pakaian yang seadanya menenteng sebuah tas rotan dibahunya. Tampak didalamnya makanan khas palembang beserta kuah cuka yang ditaruh didalam botol bekas air mineral 1,5 literan.

Bocah ini menawarkan kepada seorang ibu yang kebetulan sedang sibuk memilih pakaian disebuah pasar tradisional. Dengan acuh tak acuh, ibu ini mengatakan “nggak..nggak dek!!!” , sambil tetap memilih pakaian yang ada digantungan.

Dengan wajah kecewa, bocah ini pun pergi setelah menerima perlakuan yang sama sekali tidak ia harapkan itu.

Tidak lama setelah itu datanglah kepada ibu tadi seorang bocah yang juga berpakaian dekil seperti seminggu tidak mandi. Rambut yang tampak keriting dan kumal karena tidak pernah disisir. Saya sendiri ragu, apakah bocah ini benar-benar miskin, ataukah hanya dieksploitasi oleh orang-orang disekitarnya. Bocah ini menengadahkan tanganya, seraya berkata “Bu…tolong bu…untuk makan bu….”.

Bisa ditebak, ibu super cuek ini pun mengeluarkan jurus cueknya, seolah-olah tidak mendengar kata-kata anak tersebut. Tapi bocah ini juga tak kalah cuek, tetap saja ia menegadahkan tanganya bahkan semakin dekat dengan ibu ini.

Entah karena risih, atau memang rasa dermawanya tersentuh, tiba-tiba ibu ini mengeluarkan selembar uang kertas ribuan dari dompetnya. Dengan tanpa berkata sepatah katapun ibu ini meletakkan diatas tangan anak dekil tersebut.

Saya jadi tidak habis pikir, apakah karena perjuangan anak peminta-minta ini yang pantang menyerah, ataukah ada kesalahan berfikir pada ibu tersebut. Mengapa bocah pedagang asongan itu tidak dibeli daganganya, malah memberi kepada pengemis?.

Padahal sekiranya ibu ini membeli dagangan pedagang asongan 1.000 rupiah, berarti ibu ini hanya memberi 200 rupiah kepada bocah pengasong, karena yang 800 rupiah akan kembali kepadanya dalam bentuk barang. Kalau dihitung secara ekonomi, tentu ini masih lebih menguntngkan dibandingkan jika diberikan begitu saja kepada pengemis.

Kalau dihitung dari segi pendidikan, tentu ini jauh lebih mendidik.  Siapa yang tahu, jika anak-anak yang saat ini bekerja menjadi pedagang asongan ini kelak menjadi pengusaha besar, karena dia telah terlatih menjadi pengusaha sejak kecil. Anak-anak ini telah bisa membedakan mana pekerjaan yang bermartabat dengan yang tidak bermartabat. Mana pekerjaan yang merugikan orang lain dengan pekerjaan yang memberi manfaat timbal balik kepada orang lain.

Anak-anak ini adalah benih yang belajar berfikir kreatif sejak kecil. Mereka belajar menghargai cucuran keringat orang lain dengan menukarkan sesuatu yang bisa ia berikan untuk mengganti manfaat dari uang yang telah ia terima. Mereka inilah calon-calon enterpreneur sejati dimasa depan, apalagi jika mereka mendapatkan kesempatan yang tepat.

Bandingkan dengan anak yang berlatih meminta-minta sejak kecil. Tanpa bermaksud merendahkan profesi pengemis, tapi kalau dari kecil berlatih mengemis, saya sangat yakin masa depanya paling banter menjadi pengemis profesional. Kenapa?

Karena cetak biru mental yang tertanam sejak kanak-kanak inilah yang akan menentukan warna dirinya dimasa yang akan datang. Dalam benaknya sudah tertanam kuat bahwa untuk mendapatkan uang adalah dengan meminta kepada orang yang mempunyai uang, bukan menciptakan sesuatu yang bisa ditukarkan dengan uang.

Namun bagaimanapun kita tidak bisa menghakimi mereka, besar kemungkinan mereka juga hanyalah menjadi korban dari ambisi orang tuanya, atau ketidak tahuan orang tuanya bagaimana mendidik anak agar memiliki mental positif.

Yang perlu kita lakukan adalah menyelamatkan mereka dari profesi mengemis menuju sebuah profesi yang lebih bermartabat. Walaupun mungkin pada saat awal akan sulit merubah kebiasaan ini. Menjadi pengasong pasti jauh lebih sulit dari pengemis, bahkan bisa jadi uang yang didapatkan juga jauh lebih banyak mengemis ketimbang mengasong. Tapi harus ditanamkan  bahwa mengasong jauh lebih bermartabat dan memiliki masa depan yang jauh lebih cerah dari pada mengemis.

Maraknya pengemis juga tak lepas dari kesalahan kita. Seperti ibu yang saya ceritakan diatas yang lebih memilih memberi pengemis ketimbang membeli barang dari pengasong. Kadang kita memang tidak membutuhkan barang itu, sehingga tidak membeli. Tapi kenapa kita memberi pengemis, padahal kita juga tidak membutuhkan itu?.

Apalagi sekarang di beberapa daerah sudah dibuatkan perda mengenai pembinaan para pengemis dan anjal. Yang didalam perda itu dikatakan bahwa memberi pengemis adalah pelanggaran hukum yang bisa dikenakan denda.

Jadi lebih baik kita membantu pemerintah melakukan pembinaan atau lebih tepatnya penyelamatan bagi mereka. Memberi uang kepada pengemis, hanyalah akan menumbuhkan justifikasi pada diri mereka, bahwa profesi pengemis masih layak bahkan prospektif untuk dijadikan karier masa depannya.

Ayo..bina pengasong, selamatkan pengemis………Jadikan mereka enterpreneur muda yang sukses dimasa depan.

5 thoughts on “Memberi Pengemis atau Pedagang Asongan?”

  1. Kisah di atas pernah saya lihat juga. Bedanya hanya sampai pada batas pengasong meski “modusnya” sedikit berbeda. Suatu hari saya makan di salah satu rumah makan padang di kawasan Jalan Margonda, Kota Depok. Di tengah menikmati makan, seorang anak kecil menwarkan dagangannya yang berupa makanan ringan semacam wafer. Saya lihat anak itu menghampiri dua ibu-ibu yang sedang makan dan menawarkan dagangannya. Seperti cerita di atas, dua ibu tadi cuek; tanpa menghiraukan kehadiran pengasong kecil tadi sampai akhirnya anak itu pergi dari meja mereka . Bukan tidak punya uang kukira karena dari perhisan yang mereka kenakan tampak seperti orang berpunya.

    Yang ada dalam pikiran saya waktu itu (sampai sekarang), betapa dua ibu tadi tidak menghargai usaha anak jalanan tadi yang mendapatkan uang dengan cara jualan makanan ringan; tidak mengemis seperti anak-anak jalanan lainnya. Sebenarnya dengan hanya membeli sepotong wafer yang memang agak sedikit lebih tinggi harganya daripada harga di kios-kios, kita sudah membantu anak-anak yang kurang beruntung itu.

    Anak jalanan memang menjadi satu permasalahan tersendiri. Ketika mereka mengemis, banyak orang berpikir, “Kecil-kecil, kok, diajari ngemis”. Tapi, ada anak jalanan yang berusaha mendapatkan uang dengan cara menjajakan makanan ringan, masih ada yang tega cuek atas kehadirannya. Serba salah kan?

    Mana toleransi orang-orang yang kebetulan dikarunia keberuntungan kepada sekelompok anak-anak yang malang seperti pengasong cilik yang saya ceritakan tadi? Semestinya kita salut kepada anak-anak jalanan yang tidak melakukan perbuatan mengemis, tapi melakukan sedikit usaha lebih positif untuk mendapatkan uang.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/

  2. lebih bagus lagi kalo bisa mengulas masalah kampanye partai yang masih konservatif dengan memberi uang untuk mendapat dukungan massanya yang notabene bukan hanya tukang becak atau pemuda penggangguran tapi terkadang pegawai swasta maupun negeri.Ironis sekali pembagian uang cuma-cuma itu hanya dimanfaatkan untuk biaya putar-putar dijalan-jalan protokol tengah kota yang hanya bikin macet, bising (motor digeber-geber) dan meresahkan pengguna jalan lain padahal jalan-jalan sekarang sudah sanagt padat kendaraan .Nah bagi pimpinan partai adakah tantangan ide kampanye lebih kreatif dan meninggalkan jenis kampanye kolokan yang meresahkan (coba aja ada orang sakit parah yang harus segera dibawa ke RS bisa mati dijalan gara-gara jalannya terhadang kampanye) serta menghargai uang.Jangankan mendidik anak seperti contoh diatas, ini lebih parah orang dewasa yang berpendidikan (kadang bawa anaknya) kok mau disuruh untuk sekedar uang bensin gimana mau jadi enterprenuer kalo masih mudah disuruh tanpa alasan jelas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s