Seberapa Pentingkah Menyimpan Nomor HP Konsumen?

 

HP

 

Beberapa hari yang lalu saya menghubungi sales Adira untuk yang kedua kalinya. Kebetulan saya berstatus  sebagai konsumen.

Saya     : Halo..Pagi Mas Boby…

Sales    : Halo..siapa ini ya? (dalam hati, waduh..kok nomorku gak disimpan, biasa…konsumen kan merasa selalu penting, apalagi proses jual beli belum selesai).

Saya     : Iwan mas, yang kemarin ngajuin kredit.

Sales    : Iwan yang mana ya? (waduh…lebih gawat lagi nih, padahal kemarin sudah ngobrol banyak sama dia)

Saya     : Ya sudah mas kalau gak ingat, makasih ya…(weleh-weleh..ngambek nih ceritanya. Egonya mulai keluar, gak kredit sama kamu gak “patheken”, banyak yang lainya.)

Saya tak habis pikir, apakah memang gaya sales leasing seperti itu (maklum ini yang pertama ngajuin leasing). Mungkin sales tersebut berfikir, “siapa yang butuh?”. Memang sih, orang yang mengajukan kredit biasanya orang yang butuh pinjaman, dan biasanya juga orang yang butuh pinjaman mau-mau aja diperlakukan kurang sedap asalkan pinjamanya keluar.

Tapi dalam bisnis tidak bisa seperti itu, karena bagaimanapun tugas seorang sales adalah menjual dan melayani. Tak peduli apakah sales tersebut yang merasa lebih butuh atau malah konsumenya yang merasa lebih butuh. Apalagi sekarang perusahaan leasing sudah menjamur, dari perusahaan formal sampai perorangan atau rentenir. Sehingga banyak pilihan konsumen untuk mendapatkan pinjaman.

Sebagai seorang konsumen sebenarnya pada saat itu saya tidak bermaksud ingin dijadikan raja (kan pepatahnya pembeli adalah raja). Tapi setidaknya bagi saya konsumen adalah sahabat. Sahabat, saya rasa lebih nyaman ketimbang status raja. Karena persahabatan akan terasa lebih hangat, lebih dekat dan lebih setara. Kalau sudah dekat dan setara, maka komunikasi juga akan terjalin dengan lebih baik.

Sebagai seorang sales, saya juga memiliki pengalaman berhubungan dengan konsumen yang cukup mengesankan.

Konsumen : Halo…

Saya        : Halo…Pagi Ko Ayong…

Konsumen : Lho Pak Iwan masih simpan nomor saya ya? (Ini konsumen saya 4 tahun lalu dan terakhir kontak 1 tahun lalu)

Saya         : Tentu dong Ko (panggilan untuk orang chines), Engko kan konsumen spesial saya, mana mungkin saya hapus nomor telponya.

Konsumen : Terima kasih Pak Iwan. Gini Pak Iwan, saya mau tambah unit, beli produk Pak Iwan lagi……….

Saya yakin sekali, konsumen tersebut juga akan ingat selalu kepada saya dan produk saya, karena pengalaman yang baginya luar biasa. Ini sedikit bocoran, kalau seorang sales ingin selalu diingat oleh konsumenya, maka berikanlah sesuatu yang sedikit melebihi ekspektasi konsumen.

Seperti pada kasus diatas, mungkin saja konsumen tersebut sudah mengekspektasikan bahwa nomornya sudah dihapus, karena sudah terlalu lama tidak melakukan kontak. Tapi diluar ekspektasinya, ternyata ada seorang sales yang masih menyimpan nomor HP dan mengingat dengan baik dirinya.

Untuk melakukan hal tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit, hanya cukup “TIDAK MENGHAPUS NOMOR KONTAK KONSUMEN”. Memang membutuhkan sedikit perjuangan ketika akan berganti HP. Dua bulan lalu, ketika saya berganti HP, ternyata ada lebih dari 1.000 nama yang harus saya pindahkan. Tapi tidak masalah, karena bagi saya keberlangsungan hubungan dengan konsumen jauh lebih penting daripada perjuangan memindahkan semua nomor itu.

Dalam hubungan dengan konsumen, personalisasi sangat penting. Konsumen yang memang selalu ingin dianggap penting mendapatkan porsi yang diingainkanya. Yakni diingat dengan baik dan dikenal lebih personal. Dalam benak semua konsumen, pasti  ingin menjadi konsumen yang “istimewa” bagi  kita, dikenal dan dilayani sebagai pribadi yang ekslusif.

Untuk konsumen yang tingkat pembelianya besar, frekuensinya juga sering, mungkin tidak terlalu sulit bagi seorang sales untuk memperlakukanya spesial. Tapi bagi konsumen yang tingkat pembelianya kecil dan frekuensinya juga jarang-jarang, ketika kita perlakukan spesial, pasti akan membuatnya terkesan.

Sebagai seorang sales, kita harus selalu berpikir positif kepada semua konsumen. Konsumen yang tingkat pembelianya kecil dan frekuensinya juga jarang, belum tentu tidak prospek. Bisa jadi sebenarnya tingkat pembelianya besar dan frekuensinya sering, namun bukan kepada kita, tapi kepada perusahaan lain. Bisa jadi kita sebenarnya hanya ban serepnya, ketika kepepet tempat lain tidak ada barang, baru membeli kepada kita.

Dengan perlakuan yang sepesial, bisa jadi semua berubah drastis. Konsumen tersebut bisa merubah status kita dari ban serep menjadi tempat belanja utama yang tentunya hampir seluruh kebutuhanya dibeli dari kita.

Intinya sebagai seorang sales, kita harus memenuhi keinginan konsumen untuk diperlakukan spesial dan dianggap penting. Salah satunya adalah menyimpan nomor HP dan langsung menyebut namanya tanpa perlu konsumen memperkanalkan diri kembali.

5 thoughts on “Seberapa Pentingkah Menyimpan Nomor HP Konsumen?”

  1. Terima kasih pak Iwan atas sharenya. Alhamdulillah saya sudah melakukan itu.
    Pernah konsumen sy sempat terkaget-kaget krn sy menyapa dia langsung dengan menyebut namanya krn no hapenya masih sy simpan🙂

  2. Wah.. nice share..
    harus saya mulai dari sekrang… 1000 atau 100.000 nomer kan kusimpan selalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s