Strategi Mengatasi Penurunan Daya Beli

SembakoPenurunan daya beli masyarakat terhadap produk kebutuhan sehari-hari kerap terjadi. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh krisis ekonomi, memburuknya kondisi ekonomi nasional, regional atau lokal. Bagi produsen, penurunan daya beli ini harus segera diatasi, kalau tidak mau kondisi keuangan perusahaan ikut terpuruk. Kemudian apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini?.

Setidaknya ada 4 hal yang bisa dilakukan, diantaranya:

1.  Membuat kemasa kecil

Kemasan ekonomis bisa jadi pilihan untuk membuat harga jual produk kita terjangkau. Jika sebelumnya hanya tersedia kemasan 1 liter dengan harga Rp. 24.000, bisa dibuat kemasan 100 ml dengan harga Rp. 2.800. Meskipun jika dihitung secara total, kemasan mini akan lebih mahal, namun lebih terjangkau, karena bisa membeli dengan satuan sedikit.

Kemasan ini akan sangat cocok bagi keluarga yang sumber pendapatanya harian atau mingguan. Dengan uang yang terbatas, keluarga tipe ini akan tetap mendapatkan barang kebutuhan sehari-harinya secara lengkap, meskipun hanya dalam jumlah kecil.

2.  Membuat kemasan besar

Membuat satuan besar juga bisa jadi solusi. Terutama bagi sebuah keluarga yang besar dan sistem pendapatan bulanan.  Misalnya saja untuk minyak goreng kemasa 1 liter seharga Rp. 12.000, tidak ada salahnya jika membuat kemasan 2 liter dengan harga Rp. 20.500.

Kemasan besar bisa dijual lebih murah, karena kemasan yang digunakan juga lebih sedikit dibandingkan dengan 2 unit produk kemasan kecil.
3.  Merubah material kemasan produk

Untuk menekan harga produk agar lebih terjangkau, bisa juga dengan cara merubah material kemasan produk, sepanjang tidak merubah fungsi dan keamanan produk. Misalnya saja, kemasan kaca, diganti dengan plastik.

Merubah material kemasan produk sebaiknya juga merubah layoutnya, baik bentuk maupun gambar. Hal ini untuk mengesankan produk keluaran baru yang lebih ekonomis. Hal ini juga bisa dijadikan materi promosi yang efektif.
4.  Merubah komposisi produk

Merubah komposisi (ingredient) adalah pilihan terakhir jika ketiga pilihan diatas sudah tidak relevan. Merubah bahan/material produk tidaklah mudah, karena ini akan membuat perubahan bentuk, warna, rasa, aroma dll. Hal ini berpotensi untuk tidak lagi cocok dengan selera konsumen.

Satu hal yang perlu diingat, jika hal tersebut tidak ingin terjadi, yakni harus bisa mempertahankan seperti aslinya. Memilih bahan subtitusi yang tepat harus dilakukan secara teliti agar produk tidak berubah begitu jauh.

Akhirnya, satu kunci untuk tetap eksis dalam keadaan daya beli masyarakat sedang turun, yakni “Be Creative“.

3 thoughts on “Strategi Mengatasi Penurunan Daya Beli”

  1. Terimakasih artikelnya. Yg saya tanyakan bila produk yg dijual bukan consumer goods tetapi fashion, bagaimana strateginya agar daya beli terus meningkat sementara dluar pemain fashion sgt banyak.
    Ys

  2. Mbak Linda,

    Produk fashion memang sangat berbeda dengan consumer goods. Produk fashion biasanya menjadi prioritas kedua setelah kebutuhan pokok berupa makanan, toiletries dan bayar listrik-air-gas.

    Ketika daya beli masyarakat menurun, tentu mereka akan memprioritaskan kebutuhan pokok dulu, baru fashion. Kita juga tidak bisa meningkatkan daya beli konsumen, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana dengan kondisi daya beli yang menurun tersebut, kita tetap bisa meraup keuntungan.

    Namun demikian, produk fashion ini tidak semuanya menjadi prioritas kedua, karena ada bagian-bagian produk fashion yang masuk kedalam prioritas pertama. Misalnya saja produk pakaian anak-anak, orang tua pasti akan memprioritaskan pakaian anak, ketika pakaian yang lama sudah tidak muat lagi/sempit, ini mengingat anak-anak memiliki pertumbuhan badan yang cepat.

    Contoh lain adalah seragam sekolah, untuk tahun ajaran baru, anak-anak yang lulus TK mau masuk ke SD, mau tidak mau harus membeli seragam baru.

    Penurunan daya beli biasanya tidak dialami oleh semua kalangan. Ada kalangan tertentu yang relatif tidak terpengaruh oleh penurunan daya beli masyarakat pada umumnya. Biasanya mereka termasuk dalam pasar premium.

    Nah..kita bisa masuk ke segmen tersebut agar kita tidak ikut terkena bencana penurunan daya beli.

    Ini baru pendapat pribadi saya, mungkin teman-teman punya pendapat berbeda, silakan posting disini.

  3. saya sangat terbantu sekali dengan artikel yg anda tulis, mohon masukannya untuk strategi pemasaran rokok, sy ingin memasarkan rokok ini secara konvensional krn selama ini produk rokok ini dipasarkan secara MLM, kendala saya dibandrol karna produk rokok ini kami jual diatas harga bandrol tks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s