Dibalik Kampanye Capres yang Sensitif

capresTerjadinya reformasi di Indonesia sejak tahun 1999 telah merubah banyak hal. Setahap demi setahap tingkat sensitifitas masyarakat terhadap perubahan pemerintahan dan proses demokrasi semakin tinggi.

Jika dulu ada moto dalam bahasa jawa “ngono yo ngono, ning ojo ngono” yang artinya kira-kira “gitu ya gitu, tapi ya jangan gitu-gitu amat”. Moto yang sangat tenar dari kalangan bawah hingga ke pucuk pimpinan negara ini saat itu. Sebuah moto yang menunjukkan ketidaksensitifan terhadap ketidak biasaan. Sikap bisa saling “toleransi” ini mengakibatkan demokrasi berjalan lambat.

Pada PILPRES 2009 ini saya mengamati ada sensitifitas yang cukup tinggi dalam hal merespon apapun dari pihak lawan politik sebagai salah satu strategi marketing untuk mendapatkan suara. Ambil contoh saja seperti pernyataan Andi Malarangeng yang juga team kampanye SBY-Boediyono bahwa suku bugis belum saatnya menjadi presiden, telah membawa reaksi keras dari pihak JK-Win. Bukan hanya itu, pihak SBY-Boediyono telah beberapa kali mendapatkan interupsi karena membawa-bawa isu SARA dalam kampanyenya.

Ada juga iklan politik yang menyatakan PILPRES satu putaran juga langsung mendapatkan reaksi dari lawan-lawan politiknya. Begitupun dengan pernyataan pihak JK-Win yang mengklaim keberhasilan mendamaikan Aceh juga direspon secara cepat oleh pihak SBY-Boediyono sebagai hal yang tidak etis.

Belakangan sampai pernyataan sihir oleh SBY juga mendapat tanggapan dari Pihak Mega-Prabowo. Permadi yang dikenal sebagai paranormal yang saat ini mendukung Mega Prabowo langsung berkomentar, bahwa tidak layak seorang doktor percaya sihir dan menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah melakukan sihir untuk memenangkan PILPRES.

Bahkan masih berkenaan dengan sihir, Ali Mochtar Ngabalin, politisi PBB ini sampai membongkar pengalamanya saat mendampingi SBY pada PILPRES 2004 kepada detiknews.com. Ia menyatakan bahwa SBY memang punya jimat dan sering minta restu arwah.

Sensitifitas yang sangat tinggi terhadap pernyataan maupun perbuatan Capres-Cawapres beserta pendukungnya ini adalah fenomena baru di Indonesia. Dari sisi marketing, bisa dikatakan sebagai hard marketing. Apa cirinya?, yakni membuat sesuatu menjadi sensasional. Tidak peduli reputasi orang lain hancur, yang penting reputasinya bisa melonjak tajam.

Mengapa ini bisa terjadi?

Faktor pertama adalah para calon tidak mempersiapkan menggalang dukungan sejak jauh hari sebelum pemilu, kebanyakan mereka melakukanya setelah mendekati waktu kampanye yang singkat. Menaklukan puluhan juta suara hanya dalam  waktu  singkat membuat cara apa saja menjadi lazim. Langkah yang paling cepat adalah membuat semacam BUZZ, agar masyarakat tersentak dan menemukan hot button terhadap calon yang nge-buzz.

Faktor kedua, masyarakat pemilih sendiri sebenarnya tidak memahami secara mendalam orang-orang yang akan dipilihnya. Pemilih hanya mengenal sosok dari iklan dan pemberitaan media. Sehingga mudah terpengaruh oleh iklan, kampanye terbuka, tayangan dialog atau debat. Bisa saja hari ini sudah mantap untuk memilih calon A, tapi ketika melihat iklan kampanye calon B, maka dengan mudah berganti pilihan.

Masa mengambang yang sering disebut floating mass ini tidak hanya terdiri dari orang-orang yang tidak berpartai. Sebagian pendukung fanatik partai ternyata juga ada yang berseberangan dengan partainya sendiri. Ini artinya kata simpatisan minded tidak berlaku lagi.

Memang banyak yang mengalihkan dukungan karena memiliki kepentingan pribadi, namun banyak juga orang-orang yang berani keluar dari garis partai tersebut bukan karena punya kepentingan. Melainkan karena terpengaruh oleh pencitraan capres lain yang kebetulan merupakan citra yang diharapkan oleh pemilih secara pribadi.

Pertanyaanya kemudian, apakah sensitifitas ini menunjukkan meningkatnya tingkat kecerdasan customer (pemilih)?.

Mungkin saja ya. Pemilih kita sekarang merupakan pemilih yang lebih cerdas dibandingkan dengan jaman orde baru. Pemilih sekarang sudah menilai kapasitas, kapabilitas, track record dan apa yang ada dibalik kata-kata. Pemilih sudah mempertimbangkan unique selling dari masing-masing calon yang diharapkan bisa mewakili harapanya.

Kemampuan memasarkan unique selling ini ternyata mampu membangunkan orang-orang yang sebelumnya menyatakan golput abadi, menjadi seorang yang punya pilihan.

One thought on “Dibalik Kampanye Capres yang Sensitif”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s