Minimarket Lokal VS Nasional

Minimarket
Minimarket

Fenomena masuknya minimarket nasional ke daerah memang membawa nuansa baru dalam dunia ritel. Katakanlah seperti Indomart dan Alfamart yang datang secara serentak seperti air bah, membuat minimarket lokal terkaget-kaget.

Biasanya tanpa program belanja, tanpa promosi dan tempat yang apa adanya, minimarket lokal ini sudah mendapatkan omzet yang cukup besar. Namun tidak bisa seperti itu sekarang, karena lengah sedikit saja customernya akan melayang ke mart-mart baru itu.

Sebagai sampel, Harian Lampung Post mengungkap, wilayah Bandar Lampung saja sekarang terdapat 105 minimarket dengan komposisi 52 Indomaret, 33 Alfamart, 7 Chandramart (lokal), dan 13 minimarket lokal. Jumlah minimarket lokal jauh lebih sedikit dibandingkan dengan minimarket nasional.

Apalagi mart-mart nasional ini sengaja mendirikan minimarketnya disebelah minimarket lokal. Otomatis, omzet penjualan yang dulu dinikmati sendiri, sekarang harus berbagi. Nah masalahnya berapa yang terbagi ke minimarket nasional itu?. Secara hitungan kasar saja, jika disekitarnya berdiri 3 unit minimarket baru, maka omzet akan terbagi 4, artinya akan turun menjadi hanya 25% saja.

Nilai itu bukan nilai baku, bisa diatas 25% juga bisa dibawah 25%. Bagi yang turun hingga dibawah 25% dari omzet normal, bisa ditebak, minimarket tersebut akan tutup. Dan yang bisa bertahan diatas 25%, pasti minimarket yang cukup kuat.

Lalu apa yang dilakukan minimarket-minimarket  lokal ini untuk tetap bisa survive ditengah serbuan minimarket nasional?

Pertama, melihat tampilan minimarket nasional yang sangat baik, tentu akan memaksa minimarket lokal juga bersolek. Beberapa minimarket merenovasi gedung dan layout interior, beberapa yang lain hanya melakukan perapihan secukupnya. Malah ada yang meniru gaya minimarket nasional untuk mengesankan bahwa minimarket lokal juga bisa.

Kedua, minimarket lokal harus bersaing dalam program promosi. Ada yang memberikan diskon setiap akhir pekan, ada yang memberikan diskon item tertentu secara temporer, ada juga yang memberikan kupon berhadiah dan banyak lagi program promosi yang diluncurkan.

Ketiga, membuat member card dan fasilitas lebih bagi customer yang memiliki member card. Dengan begitu, pengelola minimarket juga bisa membaca secara detail kebutuhan masing-masing customernya. Data belanja customer yang detail juga akan sangat membantu dalam melakukan program promosi yang lebih personal kepada customer. Misalnya, Bu Desi biasa beli susu untuk anaknya merk X, ketika ada program diskon untuk susu merk X, maka pengelola minimarket bisa langsung memberi informasi melalui pesan singkat (SMS).

Keempat, minimarket lokal melihat  kelemahan minimarket nasional memiliki varian barang yang tidak begitu banyak juga quantity masing-masing item tidak begitu banyak. Singkatnya tidak lebar dan tidak dalam.

Lebar berarti jika minimarket nasional hanya memiliki 1.000 – 2.000 item barang, sedangkan minimarket lokal memiliki 4.000 – 18.000 item barang. dengan begitu sebenarnya minimarket lokal jauh lebih lengkap dibanding minimarket nasional. Melihat peluang ini, minimarket lokal justru menambah item barangnya, bukan hanya produk pabrikan, tapi juga produk lokal.

Minimarket lokal berusaha menyediakan semua kebutuhan harian customernya. Karena dari sisi psikologi pembeli, mereka cenderung memilih tempat belanja yang lengkap ketimbang harus membeli barang pada beberapa tempat terpisah.

Dalam berarti mereka bisa menyediakan barang dalam jumlah yang lebih besar. Misalnya untuk keperluan pesta, mereka memerlukan beras hingga 3 kwintal, minyak goreng 100 kg dan kebutuhan lain dalam jumlah besar. Minimarket nasional biasanya tidak menyediakan barang dalam jumlah besar, sehingga customerpun tidak akan membeli kebutuhan dalam jumlah besar ke minimarket nasional.

Kelima, menanggapi kebutuhan akan belanja dengan jumlah besar tersebut, minimarket lokal mulai berubah bentuk menjadi minigrosir, yaitu minimarket yang juga punya divisi grosir.

Untuk customer yang membeli dalam jumlah banyak, mereka akan otomatis menjadi customer grosir yang tentunya juga akan mendapatakan harga grosir (lebih murah). Hal ini dilakukan untuk memancing customer yang biasa gajian satu bulan sekali untuk berbelanja kebutuhan satu bulan sekaligus.

Keenam, beberapa minimarket terpaksa harus mengganti software aplikasi yang dipakainya, karena software lama ini sudah tidak mendukung strategi-strategi diatas yang akan dijalankan.

Ketujuh, minimarket lokal rame-rame merubah jam buka dan tutup toko. Meskipun masih jarang yang membuka minimarketnya24 jam. Bila sebelumnya jam 21.00 sudah tutup, sekarang mundur, ada yang jam 22.00 ada juga jam 23.00 baru tutup. Begitupun jam buka toko, jika sebelumnya jam 09.00 baru buka, sekarang ada yang jam 07.00 ada yang jam 08.00.

Lebih panjangnya jam buka toko ini turut melangkapi performa pelayanan. Sehingga dimata customer semua kebutuhanya ada, berpapun yang dibutuhkan juga ada, jam berapapun dicari juga ada.

Bagaimana hasilnya?, minimarket lokal yang awalnya sangat terpukul dengan kedatangan minimarket nasional ini, sekarang sudah mulai berani menunjukkan taringnya. Customer yang sudah mulai berpindah belanja, mulai berangsur-angsur kembali ke minimarket lokal.

Lalu siapa yang diuntungkan dengan persaingan ini? Tentunya customer. Karena dengan persaingan yang ketat, semua minimarket meningkatkan performa pelayanan, sehingga belanja semakin nyaman dan banyak pilihan. Hargapun bisa memilih minimarket yang memberi harga lebih murah untuk barang yang ia butuhkan.

4 thoughts on “Minimarket Lokal VS Nasional”

  1. Minimarket lokal ambil franchise aja..atau pricing sembako jauh di bawah minimarket nasional.
    Kelengkapan produk tentunya sangat mendukung minimarket lokal, karena minimarket nasional pasti akan sering tidak lengkap barangnya. namun di daerah tetap pricing sangat mempengaruhi image, banting saja 10 item paling laku kemudian naikkan 50 item yang slow moving, bisa juga ga?

  2. Menurut saya peritel lokal pun punya keunggulan jika bisnisnya bisa dikelola dengan baik. Sebagai contoh sebuah minimarket di daerah padat penduduk, sebuah toko alat listrik atau toko bahan bangunan di daerah permukiman baru, dsb. Sayangnya banyak para owner yang masih kurang memperhatikan pengelolaan keuangan bisnisnya. Sehingga saat usahanya mulai mendapat banyak pelanggan, jenis dan macam persediaan juga harus lebih dilengkapi. Di saat yang sama, kebimbangan muncul: berapa banyak modal lagi yang harus ditanamkan untuk mengembangkan usaha? Strategi apa yang harus diterapkan untuk persediaan yang fast moving, slow moving? Oleh karena posisi keuangan selalu dalam keadaan berjalan apa adanya dan tidak dibantu dengan kalkulasi yang matang, terkadang bisnis kurang cepat berkembang. Oleh sebab itu, penggunaan software akuntnasi yang tepat dan tidak hanya sekedar pengganti mesin kasir (P.O.S.) menurut saya sangat bermanfaat untuk mengantisipasi penetrasi bisnis peritel berskala nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s