Value Added Membuat Temulawak Meroket

rimpang temulawak

rimpang temulawak

Temulawak, tanaman yang bernama latin Curcuma xanthorrhiza roburgh/Curcuma aeruginosa Roxb ini sejak jaman nenek moyang kita sudah dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh, bukan hanya untuk manusia, namun juga untuk binatang piaraan.

Masih segar dalam ingatan, sewaktu masa kecil, saya dikejar-kejar ibu untuk dicekoki (minum secara paksa) Temulawak agar doyan makan. Minuman jamu ini dibuat dengan cara diparut lalu diperas dan disaring. Jamu jaman dulu rata-rata  rasanya tidak enak, bahkan cenderung identik dengan rasa pahit, maka tidak disukai oleh anak-anak.

Pembudidayaan tanaman ini juga tergolong mudah. Tanaman yang berkembang biak dengan rimpang ini sangat mudah tumbuh, baik ditanah terbuka maupun tanah terlindung seperti dibawah pepohonan. Selain jarang diserang penyakit, tanaman ini juga sangat cepat berkembang.

Namun siapa sangka, tanaman yang dulu tidak begitu memiliki nilai ekonomis tinggi ini sekarang sudah disulap menjadi produk unggul yang banyak dicari orang. Temulawak yang dulu hanya bisa didapat dari penjual jamu gendong,  sekarang sudah masuk ke pabrikan modern.

Temulawak yang dulu hanya dipercaya mampu membuat anak-anak menjadi doyan makan itu, sekarang sudah mulai berkembang. Berbagai penelitian telah mengungkap segudang manfaat tanaman obat herbal ini. Salah satu diantaranya ialah mengatasi hepatitis (penyakit kuning), radang kandung empedu, pembengkakan, mag, sembelit, kolesterol tinggi, reumatik, perut kembung, bau badan dan jerawat.

Belakangan segudang khasiat yang sudah dipercaya masyarakat itu dimanfaatkan oleh pabrik modern untuk meningkatkan daya jual produknya. Dengan cara menambahkan Temulawak pada produk, kemudian mengekspose manfaat temulawak yang ada dalam produknya tersebut secara besar-besaran. Tentu ini juga karena Temulawak sudah memiliki modal trust dari masyarakat, sehingga apapun manfaat yang disebutkan akan dipercaya.

Sebut saja produsen suplemen makanan anak yang  mengekpose ekstrak Temulawak pada produknya mampu meningkatkan nafsu makan pada anak. Obat-obat hepatitis belakangan juga banyak menggunakan temulawak sebagai bahan bakunya. Bahkan yang disebut belakang ini, sekarang menjadi alternatif utama bagi masyarakat yang sudah tidak tertarik lagi dengan pengobatan medis, mereka cenderung mencari pengobatan herbal.

Memang masyarakat akhir-akhir ini seperti mengalami titik balik maksimum terhadap pengobatan medis yang menggunakan obat-obat kimiawi. Banyak kalangan yang sudah mulai sadar akan dampak negatif dari pengobatan kimiawi tersebut, oleh karenanya mereka cenderung kembali ke alam untuk mencari pengobatan yang relatif lebih aman dan tidak kalah manjurnya.

Masalahnya sekarang tidak semua orang mau dan sempat mencari Temulawak dikebun, lalu membersihkanya, kemudian memarut dan menyaringnya untuk siap diminum sebagai obat herbal yang manjur.

Melihat besarnya minat masyarakat akan Temulawak dan ketidaksiapan masyarakat untuk mengolahnya sendiri, saat ini banyak bermunculan produsen minuman segar yang ikut mengambil pangsa pasar ini. Ada yang menggiling Temulawak segar untuk dijadikan tepung temulawak, ada juga yang mengekstrak dan mengambil sarinya, bahkan ada juga yang menambahkan rasa dan aroma pada produk ekstrak Temulawak.

Bagi mereka yang tidak suka dengan minuman, ada juga yang mengemas dalam bentuk kapsul, sehingga tidak perlu mengotori gelas hanya sekedar untuk minum Temulawak. Karena meskipun temulawak ini sudah diekstrak, tetap saja meninggalkan bau khas temulawak pada gelas.

Yang jelas mereka berlomba untuk membuat konsumen jauh lebih mudah menyajikan temulawak daripada harus memarutnya sendiri. Pengolahan rasa juga penting. Temulawak yang saya kenal dulu rasanya tidak enak, sekarang sudah disulap menjadi rasa madu, rasa jeruk, rasa strawberry dan rasa-rasa lain yang cenderung lebih disukai daripada rasa temulawak asli.

Dengan begitu, sekarang tidak perlu lagi memaksa anak-anak untuk meminum Temulawak, karena mereka sudah suka dengan rasanya yang lebih familiar dengan lidah anak-anak.

Kemasan juga menjadi pertimbangan penting. Membuat kemasan menarik dan aman dari cemaran juga akan menambah kepercayaan konsumen untuk membeli sebuah produk. Pengemasan temulawak kini telah terlihat modern, tidak lagi dalam botol tukang jamu gendong, tapi dalam kemasan rapi dengan warna-warna menarik.

Wajar saja jika kebutuhan bahan baku produk Temulawak meningkat tajam. Pusat Studi Biofarmaka, IPB-Bogor mengungkapkan kebutuhan produksi  Temulawak pada tahun 2002 mencapai 3.000 ton/tahun. Dengan kampanye back to nature tentunya saat ini jauh lebih besar dari data tersebut.

Kata kunci dari semua keberhasilan tersebut adalah value added (nilai tambah). Apapun produknya, asal mampu memberi nilai tambah pada produk tersebut, dapat dipastikan akan menuai sukses.

Pelajaran yang bisa kita petik dari keberhasilan Temulawak ini diantaranya :

1.  Menggali informasi tentang kelebihan dan kekurangan suatu produk secara mendalam.

2.  Mengekspose kelebihan agar lebih dikenal dan dipercaya.

3.  Bereksperimen menutupi kelemahan produk dengan menambahkan sesuatu agar lebih menarik, dalam hal ini bisa menambahkan rasa madu atau strawbery untuk menyamarkan rasa aslinya yang kurang enak.

4.  Membuat pilihan lebih banyak kepada konsumen, dalam hal ini mengenai rasa, bentuk, kemasan dan cara menyajikan.

3 thoughts on “Value Added Membuat Temulawak Meroket”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s