Strategi iklan politik [Caleg, Capres, Cagub, Cabub dan Calon DPD]

Pemandangan hampir semua sudut kota di Indonesia saat ini dipenuhi oleh spanduk, famlet dan banner iklan politik. Ramainya iklan politik ini telah mengalahkan rekor iklan shampo paling terkenal sekalipun di Indonesia. Pemilu sudah seperti angin ribut dimusim hujan, yang tak ada henti-hentinya. Mulai dari pemilihan gubernur, pemilihan bupati, pemilihan legislatif, pemilihan presiden hingga pemilihan DPD. Sepertinya masyarakat kita saat ini diajak hanya berfikir pemilu saja dan tidak sempat memikirkan hal lain untuk kemajuan.

Kue politik berupa kursi jabatan nampaknya masih menjadi bahan rebutan para elit politik. Bahkan dengan adanya multi partai, dan siapa saja berhak mendirikan partai, memunculkan penggiat-penggiat partai baru. Kadang kala orang disekitar rumah kita, yang jelas-jelas kerjaanya penganggur kelas kakap, tahu-tahu muncul spanduknya sebagai caleg dari partai yang namanya saja belum pernah kita dengar.

Jadi agak rancu, antara menjadi tokoh perubahan dengan pencari kerja. Hal ini terbukti ada berita diharian lokal Lampung beberapa waktu lalu, bahwa beberapa calon legislatif yang telah mendaftar ke KPU dan spanduknya bertebaran dimana-mana mengundurkan diri karena diterima menjadi PNS. Jadi saya jelas bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya mereka ini mau menjadi legislatif untuk memperjuangkan rakyat atau untuk mencari kerja?. Apakah ini mental pemimpin yang mampu membawa perubahan bangsa kita menjadi lebih baik?.

Tapi terlepas fenomena-fenomena diatas, bahasan tentang iklan politik tetap saja menarik untuk diperhatikan. Iklan politik yang menjadi top scorer saat ini adalah menampilkan foto diruang publik, baik itu berupa spanduk, banner, billboard maupun yang kecil-kecil berupa famlet.

Ada joke segar dari teman saya saat melintas di jalan kota yang penuh dengan famlet. Dia tanya pada saya “kenapa orang sekarang banyak yang kesetanan, jadi banyak korupsi, penipuan, kejahatan, kekerasan dan lain-lain?”. “ya…itu tanda-tandanya dunia mau kiamat”, jawabku serius. Sambil terbahak-bahak temanku ini menjawab “dulu, setan suka tinggal dipohon-pohon besar, dan akan pindah jika pohon itu dipaku. Nah sekarang jangankan pohon besar, pohon anakan aja penuh dengan paku karena untuk nempelin iklan caleg”.

Iklan yang dipajang diruang publik inipun beragam, namun kebanyakan hanya membubuhkan foto, logo partai, tokoh partai di pusat atau tokoh legendaris lain, terus nomor urut partai dan nomor urut dirinya dipartai tersebut. Hanya sedikit yang menyuguhkan visi dan misinya menjadi caleg. Jadi jelas disini bahwa tujuan iklan politik diruang publik tersebut, barulah untuk meningkatkan awarness atau hanya biar sekedar kenal wajahnya saja. Belum ada sesuatu yang ditawarkan, jika adapun kebanyakan masih bersifat klise. Seperti “mengangkat kesejahteraan rakyat”, “meningkatkan pendidikan”, “memperjuangkan rakyat miskin”. Tag line-tag line semacam itu sebenarnya sudah basi bagi masyarakat kita, mereka sudah terlalu sering dibohongi oleh janji-janji politikus semacam ini.

Media lain yang digunakan adalah media masa dan televisi. Lagi-lagi iklan di media masa juga tak jauh beda dengan iklan diruang publik, hanya saja ada sedikit kemajuan, ada beberapa yang memunculkan profile dirinya di koran yang dilengkapi dengan foto-foto kegiatanya. Tapi itu gak banyak, karena keterbatasan halaman koran dan aturan proporsi pemberitaan yang tidak diperbolehkan semua isi koran adalah berita yang “dipesan” oleh politisi.

Media yang lebih besar, yaitu televisi juga masih serupa dengan media masa. Iklan-iklan politik di televisi yang tiap hari kita lihat, baru menunjukkan figur dan keberhasilan masa lalu, belum ada yang berani mengungkapkan program apa yang akan dijalankan jika terpilih. Lucunya, kadang keberhasilan yang dipublikasikan terkesan dipaksakan. Misalnya masalah penurunan BBM, kan lucu sekali jika penurunan BBM diklaim sebagai keberhasilan. Padahal semua orang tahu jika penurunan itu bukan karena kehebatan pemerintah atau partai politik tertentu, karena memang harga minyak dunia sedang turun tajam. Anak kecil saja tahu bahwa harga minyak dunia memang turun. Bahkan penurunan BBM ini menurut saya masih belum mampu mengembalikan kondisi seperti semula. Terbukti harga komoditi masih tinggi meskipun BBM telah turun.

Nah tidak ikut turunya komoditi ini juga dimanfaatkan partai lain sebagai iklan politik untuk menunjukkan ke publik, bahwa penurunan BBM bukanlah keberhasilan. Malah menjual iklan politik untuk menurunkan harga SEMBAKO alias sembako murah. Padahal target pasat parai tersebut adalah kalangan menengah kebawah yang nota benenya adalah kalangan petani dan nelayan. Lha.. kalau harga sembako diturunkan, siapa yang paling merasakan dampak negatif? bukankah petani dan nelayan sebagai produsen sembako?. Apa petani mau kalau sembako diturunkan, lantas harga gabah petani hanya dihargai sangat murah?. Wah..bisa hancur petani kita.

Ada lagi, perdamaian dibeberapa daerah konflik juga diklaim keberhasilan partai tertentu melalui kadernya yang di DPR dan pemerintah. Ini juga agak lucu, karena semua orang tahu melalui pemberitaan media, bahwa semua pihak, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemudah dan organisasi sosial juga ikut bejibaku mendamaikan mereka yang bertikai, eh…begitu sudah damai diklaim keberhasilan partai.

Ada lagi, sosok lama yang tiba-tiba muncul kembali berwajah dewa, seakan-akan datang dari khayangan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari kemiskinan, kekurangan makan, pengangguran dan penderitaan lain. Tapi ironisnya sosok yang juga petinggi organisasi petani ini tidak mampu membantu petani menyediakan pupuk yang cukup. Sebagai anak seorang petani, saya hanya senyum saja melihat iklan ini, karena orang tua saya saja kesulitan mendapatkan pupuk untuk musim tanam ini. Untuk membela petani saja tidak mampu berbuat-apa-apa, apalagi untuk membela seluruh rakyat Indonesia.

Wah..aneh-aneh ya kejadianya. Terus kalau semua dipandang kurang tepat, harusnya gimana metode beriklan yang tepat itu?.

Masyarakat kita membutuhkan informasi yang akurat tentang orang-orang yang akan dipilih menjadi pemimpin bangsa ini. Mereka menginginkan orang-orang yang memiliki program kerja yang jelas dan berani malakukan kontrak politik bahwa tokoh ini benar-benar akan memperjuangkan program kerjanya itu demi kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa. Bukan hanya sekadar janji-janji politik yang ujung-ujungnya akan dikhianati ketika telah duduk menjadi pejabat, masyarakat harus puas hanya dengan klarifikasi bahwa karena keterbatasan A,B,C,D… sehingga janji politiknya dulu tidak mungkin bisa dilaksanakan sekarang.

Bagi orang-orang yang sudah terpilih atau partai politiknya memiliki kewajiban moral untuk memberi progress report berkenaan dengan kinerja para pejabat yang terpilih itu. Sehingga rakyat tahu, apa yang dikerjakanya setelah terpilih. Progress report ini juga bisa membangung image (image building) bagi orang atau partai politik tersebut. Image yang sangat baik di masyarakat akan membuka jalan untuk mempermudah proses politik pada pemilihan berikutnya.

Seleksi calon oleh partai politik juga sangat penting. Track record yang sangat baik atas pemilihan para calon yang berkualitas, jujur, pandai dan bertanggungjawab, bisa menjadi iklan paling bermutu dibanding iklan-iklan lainya. Kadang orang sudah tidak perlu melihat siapa yang dicalonkan, pokoknya kalau dari partai A, pasti bagus.

Beberapa media yang paling efektif untuk menunjukkan jati diri calon yang akan dipilih adalah bedah visi misi, debat calon dan kunjungan langsung kepada kelompok masyarakaat tertentu. Dan masih ada satu lagi yang belum tersentuh, yaitu pembuatan website atau blog para calon, sebagai media penyampaian visi, misi, program kerja dan apa saja mengenai dirinya. Apalagi website atau blog yang disediakan forum diskusi, sehingga masyarakat bisa langsung bertanya kepada calon tanpa harus menunggu jadwal kampanye didaerahnya.

One thought on “Strategi iklan politik [Caleg, Capres, Cagub, Cabub dan Calon DPD]”

  1. sebenarnya ada strategi yang agak jitu untuk mencaleg. dengan mengumpulkan team untuk mencari masa. team tersebut terdiri dari setiap tps dapil pencalegkan yang di koordinasikan untuk mencari orang lain (member get member) sebanyak yang dibutuhkan dibagi tps yang bersangkutan untuk menjadi caleg. seandainya strategi ini sukses biar gak kualat team tersebut jangan dilupakan karena untuk lima tahun kedepan pasti dibutuhkan lagi untuk periode ke 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s