Strategi memasarkan NPWP Pribadi

enpwp

Akhir-akhir ini, setiap saya ketemu sama pengusaha yang kenal dekat, selalu saja yang diomongin masalah laporan pajak tahunan, sunset policy dan masalah NPWP pribadi. Intinya masalah pajak lah, mengingat sudah mendekati batas akhir pelaporan pajak yang jatuh pada bulan Maret mendatang dan sunset policy yang berakhir pada Februari ini.

Mekanisme yang mengharuskan memiliki NPWP pribadi bagi pengusaha maupun karyawan menjadikan pembahasan masalah NPWP Pribadi ini menjadi lebih menarik. Cuma masalahnya promo marketing yang dilakukan pemerintah dengan menggratiskan pembuatan NPWP masih belum membuat banyak orang tergerak untuk membuatnya.Iklan layanan masyarakat dengan tag line “Lunasi pajaknya, awasi penggunaanya” juga tidak membuahkan hasil yang signifikan. Mengapa?

Pertama, mengawasi penggunaan pajak tidaklah mudah bagi rakyat jelata yang tidak punya power besar. Kedua, kesan bahwa membuat NPWP sama saja masuk mulut harimau, masih sangat lekat dengan citra perpajakan Indonesia. Dengan memiliki NPWP maka transaksi perbankan tidak bisa sembarangan, karena suatu saat akan diperiksa oleh petugas pajak. Belum lagi harus repot membuat laporan pajak secara berkala. Banyak yang berfikir begini “ngurusin cari makan tiap hari aja udah pusing, ehh…. kurang kerjaan amat harus ngurusin masalah laporan pajak”.

Belum lagi kadang-kadang orang yang rajin membayar pajak, jalan depan rumahnya saja hancur dan tidak pernah diperbaiki oleh pemerintah. Jadi lama-lama mereka bertanya, jadi saya bayar pajak untuk siapa?. Kok gak ada benefitnya buat saya secara langsung.

Karena menarik simpati masyarakat untuk membuat NPWP dan sadar pajak dirasa kurang berhasil, lantas pemerintah melakukan pengetatan–kalau tidak mau disebut pemaksaan–aturan perpajakan. Dengan kata lain “suka tidak suka, harus membuat NPWP dan membayar pajak”. Tindakan ini menurut saya adalah pelampiasan frustasi pemerintah terhadap kegagalan “memasarkan NPWP dan membayar pajak”.

Benarkah NPWP tidak menarik bagi masyarakat?, eiiit…jangan anti pati dulu. Inti dari marketing adalah bagaimana mengambil hati customernya, dalam hal ini, bagaimana mengambil hati masyarakat agar tertarik membuat NPWP. Yang diinginkan masyarakat itu sebenarnya sederhana. Mereka mau duduk diruangan ber AC dan tempat duduk yang nyaman saat orang lain harus mengantri untuk membeli tiket kereta api. Atau mendapatkan diskon khusus jika berbelanja ditempat favoritnya, ketika orang lain tidak mendapatkanya. Atau mendapatkan jaminan hari tua, ketika sudah tidak mampu lagi bekerja.

Nah..jika NPWP bisa memiliki value added seperti itu bagi pemiliknya, pasti masyarakat akan berbondong-bondong membuat NPWP.

Pelaksanaanya juga tidak begitu sulit. Pemerintah membuatkan ruangan khusus yang nyaman, berisi tempat duduk empuk dan bertuliskan “Ruang Khusus Pemilik NPWP” disetiap stasiun kereta api, terminal BUS, bandara atau tempat umum lainya. Sehingga mereka tidak perlu mengantri berdesak-desakan untuk mendapatkan tiket atau layanan lain, disediakan juga petugas yang melayaninya dengan ramah dan senyum manis. Hitung-hitung sebagian kecil dari hasil pajak yang mereka bayarkan setiap tahun dialokasikan untuk penyediaan ruang tersebut.

NPWP juga bisa dijadikan kartu diskon dibeberapa mall yang telah bekerja sama dengan Dirjen Pajak. Kerjasamanya, mall harus memberikan diskon atau hadiah khusus bagi customer yang menunjukkan kartu NPWP dan mall tersebut akan diberikan potongan pajak oleh kantor pajak. Bagi pengelola mall kerja sama ini merupakan promosi yang sangat menguntungkan, karena kantor pajak akan mempromosikan mallnya dan otomatis pemilik NPWP lebih cenderung memanfaatkan kartu NPWPnya untuk berbelanja di mall tersebut.

Bisa juga Dirjen Pajak bekerja sama dengan perusahaan asuransi, sehingga sebagian dari pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak akan otomatis dimasukkan sebagai premi asuransi hari tua atau asuransi kesehatanya. Dan masih banyak lagi program-program marketing yang bisa dijalankan untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk membuat NPWP dan membayar pajak. Tanpa harus dipaksa, tanpa harus diancam hukuman, mereka pasti akan rela antri di kantor pajak untuk membuat NPWP. Bahkan untuk membayar pajak yang lebih mahal dari tarif sekarang pun mereka pasti mau, asalkan benefitnya benar-benar bisa langsung dirasakan.

So.. diperlukan orang-orang yang berwawasan enterpreneur untuk menggawangi urusan pajak. Bukan orang-orang yang berwawasan preman, bisanya hanya minta, tapi gak pernah ngasih. he…he….

2 thoughts on “Strategi memasarkan NPWP Pribadi”

  1. Gak tau pemerintah maunya apa. Padahal telah menerap pajak kepada masyarakat bertingkat2. Tapi hasilnya entah gak tau kemana penggunaan. Mungkin kalo d terapkan bagi yg mempunyai NPWP pribadi dapat potongan belanja d mall, menginap d hotel, diskotik ato ke t4 lain2 yg pajaknya luar biasa besar.
    Bnyak masyarakat yg akan buat NPWP pribadi.

  2. Kalo penghasilan perbulan d bawah 5 jeti perbln, menurutku gak perlu byr pajak pribadi. Karena segitu kan pasti abis u konsumsi sebulan. Tiap uang itu d pake u konsumsi misal belanja kebutuhan sehari2, hotel, wisata, makan d rmh makan, naik pesawat dll kan dah kena pajak ppn 10%. jd kalo penghasilan d pajakin lagi, mau berapa pemerintah minta ke rakyat?

    Kecuali yg lebih dari 5 jt, mungkin bisa save, na yg kena pajak yg d save aja, itu wajar, tumpukan harta hrs d pajakin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s