Branding ala tukang Nasi Goreng

iwanbillboardsenyumsmall

Branding ternyata bukan hanya dibutuhkan untuk produk yang dipabrikasi secara besar. Bahkan untuk produk seperti nasi goreng yang berkeliling di komplek perumahan juga memerlukan branding. Seperti apa mereka melakukan branding agar awarness customernya meningkat?.

Pedagang nasi goreng di kawasan Surabaya dan sekitarnya selalu menggunakan kentongan untuk memberitahu customernya. Cara memukulnya pun khas sekali, sehingga customer bisa membedakan antar kentongan nasi goreng dengan kentongan siomay. Heranya lagi semua pedagang nasi goreng tersebut mempunyai cara memukul yang sama.

Berbeda dengan pedagang nasi goreng di Surabaya, pedagang nasi goreng di Lampung menggunakan bunyi wajan penggorengan untuk branding. Tapi lagi-lagi, semua pedagang nasi goreng di Lampung ini juga melakukan hal yang sama. Agak samar memang antar branding dengan diferensiasi dalam hal ini. Karena mereka sebenarnya hanya melakukan untuk membedakan antara pedagan nasi goreng dengan pedagang produk lain. Namun untuk sesama pedagang nasi goreng, tidak memiliki perbedaan.

Kalau dilihat dari bahan dan cara memasak, nasi goreng-nasi goreng ini relatif sama. Hanya kadang-kadang berbeda kualitas nasinya, ada yang pulen ada juga yang agak keras. Hal serupa juga dilakukan oleh pedagang mie tek-tek, sate, siomay dan pedagang-pedagan lain yang biasa keliling komplek perumahan.

Meski sangat sederhana, branding ala pedagang nasi goreng ini terbukti telah mampu meningkatkan awarness bagi customernya. Bahkan anak saya yang baru berumur 4 tahun juga sudah lari keluar rumah ketika pedagang ini mulai mendekati gang kami.

Ada cara mereka melakukan diferensiasi antar pedagang nasi goreng. Biasanya dengan membuat warna gerobak yang berbeda, atau membubuhkan tulisan sebagai brand di gerobaknya. Kadang-kadang tulisan-tulisan itu tidak nyambung dengan nasi goreng, yang penting customer tahu bahwa yang datang adalah nasi goreng langgananya, bukan yang lain.

Berbagai cara juga dilakukan oleh para pedagang nasi goreng ini untuk me-maintenance customernya. Misal dengan memberikan kerupuk lebih banyak, atau menghafalkan jumlah cabe atau sambal yang biasa diminta oleh customernya. Dengan begitu mereka cukup bertanya, “seperti biasa ya Pak?”, artinya mereka akan membuatkan menu sesuai dengan selera yang biasa kita pesan. Kerupuk lebih banyak dan cabenya gak seberapa pedas.

Joke-joke segar juga bisa menjadi diferensial tersendiri, karena biasanya pedagang lain hanya bertanya seperlunya, apa yang dipesan customer, selebihnya hanya diam sambil menyiapkan pesanan. Pedagan yang supel ternyata lebih banyak diminati dibandingkan dengan pedagang yang diam saja, meskipun memberikan porsi nasi yang lebih banyak.

Ini membuktikan bahwa customer tidak hanya ingin membeli nasi goreng yang enak, tapi juga rasa penghargaan dan kedekatan dengan pedagang idolanya. Dengan menghafal menu kesukaan masing-masing customer, maka customer tersebut merasa dihargai dan diberikan porsi spesial oleh pedagang. Obrolan yang hangat membuat customer betah dan merasa tidak enak jika akan membeli pada pedagang lain, alasanya “sudah terlanjur kenal”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s