Strategi Marketing Pedagang Duku

Sore kemarin aku berniat sedikit refreshing untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Refreshing yang paling simpel adalah jalan pelan-pelan pake motor menyusuri sepanjang jalan di Bandar Lampung.

Ada pemandangan yang agak berbeda akhir-akhir ini. Dipinggir-pinggir jalan mendadak berdiri puluhan pedagang duku, meskipun di Bandar Lampung tidak ada perkebunan duku. Menariknya para pedagang duku itu menggantungkan sobekan kertas karton bertuliskan berbagai program marketing yang mereka tawarkan.

Ada yang bertuliskan “Duku asli Komering” (komering salah satu daerah di Sumatera Selatan yang terkenal dengan duku yang manis), ada juga yang bertuliskan “3 kilo 10.000”. Melihat tulisan terakhir, rasanya aku penasaran ingin mampir, sebab harga duku di Supermarket berkisar antara Rp. 8.000 – 10.000/kilo. Dalam hati aku berpikir “Lumayan nih.. murah banget, apalagi terlihat tumpukan duku yang dijual juga besar-besar seperti di Supermarket”.

Akhirnya aku memutuskan mampir untuk membeli. “Bener Pak dukunya 10.000 dapat 3 kilo?” tanyaku agak ragu. Pedagang dukupun menjawab sambil tersenyum agak meledek “Bener mas, cuma yang harga itu yang tumpukan sebelah sini, bukan yang itu” (jurus pertama=teknik menarik perhatian customer), sembari tangannya menunjuk tumpukan duku yang kecil-kecil, warnanya kehitam-hitaman dan sudah benjut (bonyok), bukan seperti yang aku lihat dari atas motor tadi.

Terus kalo yang ini berapa Pak? ooo….yang itu sekilo 6.000 mas. “Lho kok gitu” (protesku). “Iya pak, yang ini kualitas supermarket mas, kalo disupermarket harganya 10.000, disini 6.000 aja”(jurus kedua=sensational ofer). “Manis lho mas, asli komering. Gak percaya? boleh nyicip nih…”, langsung dia kupasin satu buah untukku. (jurus ketiga=sampling).

Namanya konsumen, kalo gak nawar kayaknya gak puas gitu, jadi aku coba menawarnya. “Empat ribu aja sih pak, Bapak kan dapat langsung dari pohon, mestinya bisa jual lebih murah dong…”. Nah dia ngeluarin jurus (keempat=closing) “Gini aja mas, biar jadi aja… aku kasih harga 5.000, tapi harus beli 3 kilo ya…”. Waduh bisa mencret nih kebanyakan makan duku, aku agak ngedumel sendiri.

Akhirnya karena udah terlanjur nawar-nawar, gak enak kalo gak jadi beli, makanya aku setuju aja beli harga Rp. 5.000/kilo dengan kuantity harus 3 kilo sekaligus.

Dari situ, aku agak terheran-heran. Pedagang duku yang gak pernah ikut seminar atau workshop tentang marketing mampu menerapkan jurus-jurus marketing dengan sempurna. So aku bisa menyimpulkan bahwa setiap orang sebenarnya dibekali kemampuan marketing sejak lahir sebagai senjata untuk mempertahankan hidupnya.

Lihat saja bayi yang baru lahir, begitu pandainya dia mencari perhatian orang tuanya untuk disusuin, bahkan tanpa sepatah katapun. Marketer yang luar biasa.

5 thoughts on “Strategi Marketing Pedagang Duku”

  1. kadang2 kita masih di motor mereka manggil2 sambil tersenyum menawarkan kita untuk mencicipi duku mereka….kombinasi dari tiap teknik marketing bisa digunakan agar penjualan terus meningkat…hidup tukang duku???hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s