RSS

Para Pembantu Menjadi Marketer Hotel Berbintang

Pembantu Rumah TanggaMarketer sebuah hotel berbintang lazimnya adalah sosok keren, rapih, berdasi, bersih dan bahasanya tertata santun karena sering mengikuti workshop personal building. Tapi apa jadinya jika para pembantu rumah tangga yang biasa mengurusi urusan belakang, tiba-tiba menjadi marketer handal untuk hotel-hotel berbintang di kota-kota besar?

Hal ini bukanlah cerita humor ala Opera Van Java, tapi kenyataan dihadapan kita, angkanya setiap tahun juga terus meningkat.

Orang-orang yang sekarang menjadi kaya dan super kaya, banyak diantaranya juga berasal dari orang tidak berpunya. Namun seiring dengan meningkatnya kekayaan, gaya hidupnya juga terus bergeser. Dari awalnya mencuci pakaian sendiri, masak sendiri, bersih-bersih rumah sendiri, kemudian berkembang  mulai menjalankan tugas dibantu oleh  berbagai mesin untuk sedikit meringankan tugas.

Setelah nilai kekayaan meningkat lagi, rasanya mesin-mesin ini masih tetap saja merepotkan, karena harus dioperasikan sendiri dan masih memakan waktu. Kemudian meningkat lagi, mencari pembantu, awalnya juga hanya pekerjaan berat yang dikerjakan pembantu, sedangkan pekerjan ringan tetap dikerjakan sendiri. Lama-lama pekerjaan ringan inipun terasa berat, maka mencari tambahan pembantu untuk mengerjakan pekerjaan ringan tersebut. Lama-lama seluruh pekerjaan rumah dikerjakan oleh pembantu.

Kejadian ini seperti katak eksperimen yang dimasukan ke dalam air kemudian suhu air dibuat meningkat secara berlahan. Katak tersebut tidak akan merasa tersiksa sama sekali, mungkin malah merasa nyaman. Justru keadaan akan berbalik ketika tiba-tiba suhu air dibuat kembali seperti semula.

Orang-orang yang berubah menjadi kaya dan super kaya ini juga mengalami hal serupa. Saat lebaran tiba, para pembantu secara serempak meninggalkan keluarga mereka untuk pulang kampung. Sebagian besar diantara mereka tidak tahan harus cuci pakaian sendiri, cuci piring sendiri, bersih-bersih sendiri apa lagi jumlah tamu akan meningkat tajam, pasti sangat repot.

Kemudian langkah yang paling mudah adalah mereka berpindah rumah ke hotel-hotel berbintang atau resort  sementara waktu. Karena di hotel semua sudah disediakan oleh pelayan hotel. Menurut detik.com lebaran tahun ini tingkat hunian hotel di Jakarta mencapai 90 – 100%. Dan sebagian besar penghuni tersebut adalah keluarga kaya yang mengungsi sementara saat ditinggal para pembantunya.

Momen ini tentu tidak akan begitu saja dilewatkan oleh pengelola hotel, dengan tingkat hunian yang tinggi, mereka berusaha mengeruk sedalam mungkin kocek para orang kaya dan super kaya ini agar mengalir ke teller hotel.

Banyak cara dilakukan, misalnya  memberikan diskon besar untuk paket makan sekeluarga, dengan harapan tamu hotel memilih makan di restoran hotel ketimbang harus mencari makan di luar. Mengadakan live show dengan paket premium namun dengan harga diskon besar-besaran dan masih banyak lagi layanan untuk membuat tamu mereka betah tinggal di hotel dan yang pasti juga agar semakin banyak uang yang mengalir ke teller hotel.

Artinya para pembantu mampu memaksa para majikanya sekeluarga untuk menginap di hotel-hotel berbintang dan menghabiskan uang yang cukup banyak disana. Bukankah para pembantu ini bisa kita akui termasuk dalam deretan marketer handal? Hal ini belum tentu bisa dilakukan oleh marketer hotel kelas wahid sekalipun didunia.

Seharusnya para pengelola hotel mengucapkan terima kasih kepada para pembantu ini, bahkan seharusnya juga memberikan marketing fee untuk mereka ha..ha….

Kalau saja saya yang menjadi marketer hotel berbintang itu, setiap tahun akan saya sediakan sebanyak mungkin  bus angkutan lebaran untuk menfasilitasi para pembantu mudik gratis ke kampungnya. Karena semakin banyak pembantu yang mudik, tentunya akan semakin banyak majikan yang akan lari ke hotel.

Coba kita hitung saja, kalau satu bus bisa membawa 30-40 pembantu, dengan asumsi satu rumah tangga memiliki 3 – 4 pembantu berarti ada 10 keluarga yang akan ditinggalkan pembantu secara mendadak. Kalau kita sediakan 100 mobil, berarti setidaknya akan ada 1.000 keluarga yang tiba-tiba ditinggalkan, ambil saja angka minimum 10%  saja yang masuk ke hotel kita, berarti ada 100 keluarga yang akan pindah ke hotel kita. Kalau saja satu keluarga menghabiskan 20 juta dalam 3 – 5 hari, berarti akan ada uang masuk senilai 2 M.  Lumayan kan dapat tambahan 2 M dalam waktu 5 hari?.

 
1 Comment

Posted by pada 24 Agustus 2011 in Selling

 

Kaitkata: , , , , , , , , ,

Mengapa Sulit Sekali Mencari SDM Berkualitas

SDM BerkualitasSetelah ikut mengelola perusahaan lebih dari 7 tahun, saya menyimpulkan bahwa hal yang paling sulit dalam manajemen perusahaan adalah SDM. Sewaktu kami membutuhkan tenaga kerja baru, selalu saja diliputi kebimbangan dalam memilih para pelamar. Mengapa?

Setelah dilakukan seluruh rangkaian test, tidak satupun yang memenuhi seluruh persyaratan. Ada saja yang punya kelebihan dibidang teknis, namun bidang lain masih sangat kurang. Banyak orang yang pandai dibidang teknis tapi sangat payah dalam komunikasi. Padahal komunikasi bagian yang sangat penting dalam menjalankan tugas-tugas teknisnya. Bagaimana mungkin seseorang yang harus selalu berhubungan dengan rekan kerja, client dan atasanya tidak mampu mengomunikasikan kendala-kendala dan solusi di lapangan dengan baik?

Ada juga pelamar yang komunikasinya sangat baik, tapi pekerjaan teknisnya kacau. Padahal tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan hanya dengan komunikasi, tapi secara teknis juga harus memadai.

Belum lagi, perusahaan kami juga membutuhkan beberapa kemampuan teknis sekaligus.Sepertinya Read the rest of this entry »

 
8 Comments

Posted by pada 13 Juni 2011 in Corporate

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , , , ,

Jalan buntu pedagang minyak tanah

Seorang bapak tua, tampaknya sudah berumur 60 an, mendorong gerobak tuanya. Gerobak ini adalah satu-satunya gantungan hidupnya untuk mencari sesuap nasi.

“Sekarang susah cari uang mas, padahal dulu bisa dua kali balik, sekarang satu jerigen aja gak pernah habis seharian”, keluhnya seakan tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi.

Pak Pur, begitu biasanya ia disapa, adalah salah satu orang yang menjadi korban konversi minyak tanah ke LPG. Sebuah kebijakan spektakuler yang telah membawa kemajuan puluhan juta orang, namun tidak pada Pak Pur.

Setiap kebijakan pasti akan ada pihak-pihak yang diuntungkan, namun disisi lain juga pasti akan ada pihak yang menjadi korban.

Pak Pur tampaknya adalah salah satu yang menjadi korban. Bahkan Pak Pur tetap saja rajin mendorong gerobaknya setiap hari, seolah tak peduli dengan perubahan yang tengah terjadi.

Dengan polosnya Pak Pur terus berdo’a agar paceklik orderan ini segera berakhir. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk beralih profesi, karena berjualan minyak tanah inilah yang telah ia jalani puluhan tahun. Sebuah profesi yang telah melepaskanya dari lubang jarum dimasa-masa sulit dulu.

Saya tidak habis pikir, apakah keputusanya untuk menjual minyak tanah adalah karena kecintaanya pada profesi itu, atau karena ketidaktahuanya akan prospek minyak tanah kedepan, sehingga terus ditekuninya.

Namun secara tersirat ia sebenarnya mengatakan bahwa profesi itulah yang ia kuasai untuk dilakukan. Untuk mencoba yang lain tampaknya tidak cukup keberanianya.

Berspekulasi tentu bukan keahlianya. Itulah tampaknya membuat ia tidak pernah mencoba yang lain. Pak Pur bisa dibilang punya presistensi yang cukup tinggi dalam hal ini.

Namun apalah artinya presisten jika bidang yang ia jalani adalah jalan buntu. Hanya menunggu waktu untuk benar-benar berhenti?

Atau akankah nasibnya akan benar-benar berubah seiring waktu?

 
1 Comment

Posted by pada 16 Februari 2011 in Selling

 

Kaitkata: , , , , ,

Memberi Pengemis atau Pedagang Asongan?

Seorang bocah yang baru 12 tahunan, dengan pakaian yang seadanya menenteng sebuah tas rotan dibahunya. Tampak didalamnya makanan khas palembang beserta kuah cuka yang ditaruh didalam botol bekas air mineral 1,5 literan.

Bocah ini menawarkan kepada seorang ibu yang kebetulan sedang sibuk memilih pakaian disebuah pasar tradisional. Dengan acuh tak acuh, ibu ini mengatakan “nggak..nggak dek!!!” , sambil tetap memilih pakaian yang ada digantungan.

Dengan wajah kecewa, bocah ini pun pergi setelah menerima perlakuan yang sama sekali tidak ia harapkan itu.

Tidak lama setelah itu datanglah kepada ibu tadi seorang bocah yang juga berpakaian dekil seperti seminggu tidak mandi. Rambut yang tampak keriting dan kumal karena tidak pernah disisir. Saya sendiri ragu, apakah bocah ini benar-benar miskin, ataukah hanya dieksploitasi oleh orang-orang disekitarnya. Bocah ini menengadahkan tanganya, seraya berkata “Bu…tolong bu…untuk makan bu….”.

Bisa ditebak, ibu super cuek ini pun mengeluarkan jurus Read the rest of this entry »

 
5 Comments

Posted by pada 21 Agustus 2010 in SDM

 

Kaitkata: , , , , , , , ,

Melihat Sisi Lain Usaha Mikro

Anda mungkin sering melihat para pedagang seperti foto-foto ini, saya lebih suka menyebutnya pedagang portable. Mereka tidak perlu tempat permanen, yang jelas akan menghemat biaya sewa tempat usaha. Meskipun portable, mereka biasanya memilih mangkal ditempat tertentu dan semi menetap. Mengapa? Sepertinya prinsip available yang mereka terapkan. Mereka ingin pelanggan bisa mendapatkan keberadaan mereka dengan mudah.

Mereka ini adalah pendekar-pendekar perekonomian kita, disaat perusahaan besar mengalami kesulitan keuangan saat krisis, mereka tetap eksis. Bukan berarti tidak terkena dampak krisis, tapi mereka jauh lebih tangguh dari perusahaan besar.  Mengapa mereka sanggup bertahan?, salah satu alasanya adalah karena itulah periuk nasi mereka, jadi mau tidak mau, mereka harus menyesuaiakan diri dalam kesulitan itu.

Kenaikan harga bahan baku yang menggila, kadang tidak diikuti dengan kenaikan harga jual produk, karena jika harga jual dinaikkan, mereka takut kehilangan pelanggan. Akhirnya yang dilakukan adalah memperkecil margin, membuat paket ekonomis dan berbagai inovasi lain agar produk tetap terjual.

Mereka juga pejuang yang tangguh, karena tidak pernah mengeluh pada perbankan untuk mendapatkan tambahan modal usaha. Rata-rata mereka mendapatkan modal dari Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by pada 30 Juli 2010 in Corporate

 

Kaitkata: , , , , , , , , , , ,

Lingkaran Setan Kemiskinan

Dulu waktu saya dan istri masih menjadi orang miskin kuadrat (karena saking miskinnya), memang rasanya hidup sangat sulit, serasa semua serba menghimpit hingga dada ini sulit bernapas lega. Hidup kami serba kekurangan, namun kami selalu menjaga diri dari meminta bantuan orang lain. Mungkin kami terlalu egois dan keras kepala. Tidak ada yang tergambar di otak kami selain rasa optimis. Kami sangat yakin suatu saat nanti kami akan menjadi orang yang mapan. Dan kami juga punya secerca harapan, nanti ketika kami sudah menjadi orang mampu, kami akan mengentaskan orang-orang miskin sebanyak-banyaknya. Kami benci kemiskinan, kami mau membasmi habis kemiskinan itu dari negeri kami. Kami tak ingin melihat ada orang miskin dan hidup serba kekurangan dimuka bumi ini.

Mungkin bagi orang yang belum pernah merasakan jadi orang miskin kuadrat seperti kami, hanya mencibir sambil tersenyum hambar. Read the rest of this entry »
 
7 Comments

Posted by pada 16 Juli 2010 in Integritas, SDM

 

Kaitkata: , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.